Abstract
Program pelatihan kerajinan anyaman bambu di Desa Sikulan, Jiput, Pandeglang, Banten, bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui peningkatan keterampilan teknis dan kewirausahaan berbasis potensi lokal. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pemanfaatan bambu sebagai komoditas ekonomi, meskipun ketersediaannya melimpah di lingkungan desa. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA), dengan pendekatan partisipatif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Pelatihan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu sosialisasi kewirausahaan; pelatihan teknis anyaman bambu dan pemasaran digital; serta evaluasi hasil. Sebanyak 20 peserta terlibat aktif dalam pelatihan ini dan menunjukkan antusiasme tinggi, dengan tingkat kehadiran mencapai 95%. Materi yang diberikan mencakup teknik dasar anyaman, desain produk, penggunaan media sosial untuk promosi, dan perencanaan usaha sederhana. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada skor pre-test dan post-test keterampilan, serta kualitas produk kerajinan yang dihasilkan. Total lebih dari 50 produk diciptakan peserta, dan satu kelompok usaha baru terbentuk pasca pelatihan. Selain itu, akun Instagram @sinar.sikulan berhasil dibuat sebagai etalase digital produk. Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis masyarakat, tetapi juga mendorong munculnya peluang ekonomi baru dan memperkuat identitas budaya lokal melalui strategi ekonomi kreatif. Kesimpulannya, pelatihan ini efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dan dapat direplikasi sebagai model pemberdayaan desa yang berkelanjutan.The bamboo weaving craft training program in Sikulan Village, Jiput, Pandeglang, Banten, aims to empower the community by enhancing technical and entrepreneurial skills based on local potential. This initiative is driven by the underutilization of bamboo as an economic commodity, despite its abundant availability in the village environment. The method used is Participatory Rural Appraisal (PRA), applying a participatory approach in the planning, implementation, and evaluation stages. The training was conducted in three phases: entrepreneurship socialization; technical training on bamboo weaving and digital marketing; and outcome evaluation. A total of 20 participants were actively involved and showed high enthusiasm, with an attendance rate of 95%. The training materials covered basic weaving techniques, product design, social media use for promotion, and simple business planning. Evaluation results indicated a significant improvement in pre-test and post-test scores, as well as in the quality of the craft products produced. More than 50 products were created by participants, and one new business group was formed after the training. Additionally, the Instagram account @sinar.sikulan was successfully launched as a digital showcase for the products. This training not only enhanced the community’s technical skills but also encouraged the emergence of new economic opportunities and strengthened local cultural identity through creative economy strategies. In conclusion, the training effectively increased community capacity and can be replicated as a sustainable village empowerment model.
Cite
CITATION STYLE
Effendi, H., Nurhaida, D., & Hariyandi, E. (2025). Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Melalui Pelatihan Anyaman Bambu dan Pemasaran Digital untuk Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan. Jurnal IPTEK Bagi Masyarakat, 4(3), 268–283. https://doi.org/10.55537/j-ibm.v4i3.1116
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.