Abstract
Pada awal 1990-an, orang Tionghoa Kristen di Indonesia dilarang menggunakan simbol-simbol seperti naga, harimau, dan ular yang dianggap oleh beberapa kelompok Kristen fundamental sebagai representasi kejahatan. Benda-benda dengan gambar naga disarankan untuk dibuang setelah didoakan terlebih dahulu, karena dalam Alkitab naga sering dijadikan simbol kejahatan. Namun, dalam kebudayaan Tionghoa, naga dianggap baik dan sakral, melambangkan kekuatan, keberuntungan, dan kebijaksanaan. Pada tahun naga, angka kelahiran meningkat karena dipercaya membawa keberuntungan. Jika naga dipercaya oleh orang Tionghoa sebagai sesuatu yang baik, mengapa terdapat larangan penggunaan simbol ini? Apakah naga yang dihayati oleh orang Tionghoa memang berlawanan dengan Kristus? Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis Bevans untuk mengkaji kontekstualisasi kristologi di tengah masyarakat Tionghoa Kristen di Indonesia. Melalui pendekatan ini, kami berusaha menjembatani diskrepansi tersebut serta menyarankan umat Kristen Tionghoa untuk tidak takut atau bingung ketika hendak menggunakan simbol naga sebab ada titik temu antara konsep naga Tionghoa dengan Kristus yang dipercayai oleh orang Kristen. Pemahaman yang baru ini diharapkan dapat melestarikan identitas budaya Tionghoa sambil tetap menjaga kesetiaan pada ajaran Kristen, sehingga tercipta harmoni antara ajaran Alkitab dan tradisi lokal. Lewat penelitian ini dapat disimpulkan bahwa refleksi Tionghoa tentang naga justru dapat dijadikan pintu masuk dalam menghayati Yesus Kristus bagi orang Kristen Tionghoa di Indonesia.
Cite
CITATION STYLE
Sutanto, F. P. H. H., & Wahju Satria Wibowo. (2024). Yesus Sang Naga. Theologia in Loco, 6(2), 193–221. https://doi.org/10.55935/thilo.v6i2.318
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.