Abstract
Nyirep udan merupakan warisan dari nenek moyang yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya dan sekarang upacara Nyirep Udan menjadi kepercayaan dan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat desa Sumbersari Pebayuran Bekasi, meskipun ada beberapa masyarakat yang menganggap Nyirep Udan adalah perbuatan musrik. Masyarakat yang tidak mempercayai Nyirep Udan, mereka menggunakan cara agama Islam yaitu berdoa kepada Allah dengan cara berdzikir supaya acaranya berjalan lancar. Islam menjadikan aqidah sebagai fondasi syariah dan akhlak. Oleh Karena itu, karakter yang mula-mula dibangun setiap muslim adalah karakter terhadap Allah. Ukuran utama karakter dalam Islam adalah Al-Qur‟an dan sunnah Nabi. Pada dasarnya, do’a menangkal hujan tidaklah bertentangan dengan syari’at Islam. Karena pada zaman Rasulullah, terdapat kisah tentang seorang laki-laki yang meminta kepada Rasulullah agar turun hujan. Kemudian beliau berdo’a agar turun hujan. Namun kenyataanya hujan turun sampai beberapa hari dan sangat deras bahkan mengakibatkan bencana sehingga banyak tanaman dan jalan yang rusak. Kemudian seorang laki-laki yang tidak dikenal kembali menemui Rasululluh untuk meminta dido’akan agar hujan berhenti. Rasulullah lantas mengangkat tangannya dan berdo’a agar hujan tidak turun lagi. Dari keterangan di atas, kita mengetahui bahwa rahmat yang sebenarnya yaitu kasih sayang Allah SWT. Rahmat Allah ada pada semua cuaca baik ketika hujan ataupun terang.
Cite
CITATION STYLE
Cahyati, L., Maulana, I., Buchori, B., Anisa, A., & Djohani, M. (2023). Tradisi Ritual Nyirep Udan Berbasis Al-Qur’an Dalam Acara Pernikahan Di Desa Sumbersari Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi. Jurnal Citizenship Virtues, 3(2), 559–572. https://doi.org/10.37640/jcv.v3i2.1873
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.