Abstract
Dalam doktrin keimanan dalam Islam dikenal iman kepada Kitab Suci dan iman kepada para Nabi. Nilai filosofis dari dua doktrin ini, karena manusia setelah “menemukan” Tuhan dalam perenungannya, manusia membutuhkan cara untuk bisa berhubungan dengan-Nya, itu sebabnya Tuhan pun – dengan sifat Rahman Rahim-Nya – menurunkan Kitab Suci. Tak hanya itu, Tuhan pun “memilih” manusia manusia yang mempunyai kemampuan khusus (Al-Hads dalam bahasa Ibnu Sina) untuk menyampaikan tuntunan-Nya sekaligus memberikan teladan baik bagi segenap umat manusia. Ada sebagian orang yang menolak kenabian, seperti Ibnu Ruwandi, Abu Bakar Ar-Razi dan Ibnu Hayyan, dengan alasan bahwa kenabian itu tidak rasional. Namun, kita tak bisa mendengar argumen mereka “bagaimana cara berhubungan dengan Tuhan”. Jika toh mereka pun menjelaskan bagaimana caranya berhubungan dengan-Nya pun, mereka berperan sebagai nabi. Dan jika mereka berperan sebagai nabi, mereka harus teruji secara moralitas dalam arti harus mampu memberikan teladan yang baik
Cite
CITATION STYLE
Noor, F. (2024). KENABIAN: PRESPEKTIF FILSAFAT ISLAM. Siyasyatuna | Jurnal Hukum Tata Negara, 4(2), 95–116. https://doi.org/10.70143/siyasatuna.v4i2.307
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.