MEMERANGI CYBERCRIME DAN TPPO PEKERJA MIGRAN INDONESIA (PMI) NON-PROSEDURAL KE KAMBOJA

  • Sugiyono A
  • Runturambi A
N/ACitations
Citations of this article
104Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Belakangan aspek dalam TPPO ikut mengalami transformasi seiring dengan kemajuan teknologi komputer dan jaringan internet tersebut sehingga membuat TPPO juga terhubung menjadi bagian dalam kejahatan cybercrime. Teknologi seolah membuka pintu bagi jaringan perdagangan orang di dunia maya sebagai jalan bagi para pelaku untuk merekrut, mengeksploitasi dan mengendalikan para korbannya. Pada bulan Mei 2023 yang lalu Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan bahwa pemerintah telah memulangkan 1.138 warga negara Indonesia korban perdagangan orang yang dipekerjakan pada perusahaan situs judi online, situs porno dan online scam di Kamboja. Kondisi ini setidaknya dapat memberikan gambaran tentang situasi aktual TPPO yang terhubung dengan cybercrime kepada masyarakat nasional maupun internasional. Oleh karena itu kejahatan perdagangan orang dengan modus ini harus dipandang sebagai kejahatan serius karena dapat mengancam keamanan nasional dan global. Imigrasi Indonesia memiliki peran yang cukup signifikan dengan melakukan upaya pencegahan keberangkatan baik di perbatasan maupun pintu-pintu perlintasan sebagai filter terakhir dalam memerangi kejahatan cybercrime dan TPPO.

Cite

CITATION STYLE

APA

Sugiyono, A. F., & Runturambi, A. J. S. (2024). MEMERANGI CYBERCRIME DAN TPPO PEKERJA MIGRAN INDONESIA (PMI) NON-PROSEDURAL KE KAMBOJA. Jurnal Ilmiah Kajian Keimigrasian, 7(1), 43–61. https://doi.org/10.52617/jikk.v7i1.570

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free