Abstract
Strategi pemberdayaan perempuan bisa mengangkat permasalahan perempuan rawan sosial, melalui program pendirian Lembaga Pemberdayaan Perempuan (LPP) di Kabupaten Indramayu. Permasalahannya adalah bagaimana pola komunikasi kelompok dalam kegiatan LPP Mandiri di desa Amis dan desa Loyang, Kabupaten Indramayu melalui metode Studi Kasus dengan Participatory Rural Appraisal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitator yang bertindak sebagai komunikator, berperan sebagai pusat informasi dengan mengandalkan kredibilitas, daya tarik dan kekuasaan yang dimilikinya. Pemahaman terhadap pesan yang disampaikan oleh LPP Mandiri menumbuhkan motivasi yang sama terhadap para anggotanya yaitu mendapatkan tambahan modal usaha sehingga mereka dapat mencapai kehidupan perekonomian yang sejahtera.
Cite
CITATION STYLE
Zakiah, K., Chairiawaty, C., & Yuniati, Y. (2012). Pola Komunikasi Kelompok Lembaga Pemberdayaan Perempuan Mandiri. Jurnal Penelitian Komunikasi, 15(1), 79–92. https://doi.org/10.20422/jpk.v15i1.705
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.