Abstract
Pemimpin dalam masyarakat Toraja telah ditarik dalam pemahaman kekuasaan, pengakuan, prestise dan harga diri. Hal ini berdampak kepada kuatnya daya dorong banyak orang Toraja untuk mengubah nasibnya dengan menjadi pemimpin dengan cara apapun. Akibatnya adalah mereka dengan hasrat menggebu merantau dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kembali dengan mengandalkan kekuatan uang untuk merebut posisi sebagai pemimpin. Demokrasi yang memberi kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk memilih dan dipilih telah terpola pada sebuah politik yang transaksional yakni politik uang. Situasi ini tentu mengancam dan akan memporak-porandakan bangunan demokrasi kita. Gereja selaku bagian yang berpengaruh sangat besar dalam mengawal demokrasi serta proses suksesi pemimpin dalam masyarakat Toraja seolah-olah tidak berdaya. Kekuatan kapital telah menaklukkan masyarakat termasuk gereja. Tidak adakah jalan lain yang dapat ditempuh gereja? Penelitian ini dilakukan untuk menawarkan konsep rasionalitas komunikasi Jurgen Habermas. Bahwa politik uang yang massif dan sistematis dapat dilawan oleh gereja dengan konsep rasionalitas komunikasi yang massif dan sistematis juga.
Cite
CITATION STYLE
Parimba, J. (2021). RASIONALITAS KOMUNIKASI SEBAGAI PILIHAN GEREJA DALAM MELAWAN POLITIK UANG DI TORAJA. Melo: Jurnal Studi Agama-Agama, 1(1), 49–63. https://doi.org/10.34307/mjsaa.v1i1.8
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.