Abstract
Akses masyarakat dunia terhadap darah yang aman sangat terbatas. Hanya sekitar 30% negara-negara di dunia yang mempunyai pelayanan transfusi yang menyeluruh di negaranya. Sementara itu, transfusi masif mempunyai angka survival yang rendah dengan mortalitas sekitar 45-67%. Usia pasien, durasi dan beratnya syok, Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), dan jumlah darah yang ditransfusikan mempengaruhi keluaran pasien tersebut. Koagulopati memiliki angka mortalitas tinggi dalam 4-6 hari paska perawatan rumah sakit. Pasien-pasien di bidang obstetrik dan ginekologi banyak yang berpotensi memerlukan transfusi darah. Seksio sesaria (SC) dan histerektomi adalah dua tindakan bedah obstetrik yang sering dan berpotensi perdarahan sehingga memerlukan transfusi darah. Kondisi lainnya adalah perdarahan postpartum, placenta previa, dan ruptur kehamilan ektopik. Perdarahan di bidang obstetrik masih merupakan penyebab kematian ibu yang tinggi di Indonesia.
Cite
CITATION STYLE
Uyun, Y., Pratomo, B. Y., & Hernawan, A. D. (2021). Protokol Transfusi Masif pada Obstetrik. Jurnal Komplikasi Anestesi, 8(1), 53–63. https://doi.org/10.22146/jka.v8i1.7488
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.