Abstract
Blok Kebon Gedang merupakan salah satu dari sedikit daerah pengrajin batik pewarna alami di Indonesia. Kegiatan penggunaan pewarna alami untuk batik ini telah dilakukan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peralihan pengetahuan etnobotani pewarna alami berdasarkan kelas umur (KU), menganalisis cara-cara regenerasi serta menganalisis skema kebijakan retensi pengetahuan etnobotani pewarna alami di Blok Kebon Gedang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara secara semi terbuka, observasi, dan dokumentasi. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling dengan mempertimbangkan usia (tahun), yaitu I (30-39), II (40-49), III (50-59), IV (>60). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pewarna alami dan retensi paling tinggi terdapat pada KU III karena orang-orangnya masih sehat, kuat, dan pada umumnya masih aktif mengikuti perkembangan industri batik, namun KU III merupakan kelompok dengan perubahan pengetahuan paling tinggi dan dikhawatirkan akan hilang. Sedangkan pada tingkat KU yang lain, pewarisan pengetahuan masih berlangsung dengan baik. Kebijakan retensi pengetahuan etnobotani pewarna alami dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya melalui pembuatan buku, booklet atau situs elektronik tentang pengetahuan pewarna alami, serta dengan melakukan pendaftaran hak kekayaan intelektual. Penelitian ini dapat merekam kondisi pengetahuan yang terjadi sehingga dapat dilakukan upaya-upaya untuk mencegah kehilangan pengetahuan tersebut. Kebon Gedang Block is one of the few areas of natural dye batik craftsmen in Indonesia. The activity of using natural dyes for batik has been carried out from generation to generation. This study aims to analyze the transfer of ethnobotanical knowledge of natural dyes based on age class (KU), analyze ways to regenerate and analyze the policy scheme for retention of ethnobotanical knowledge of natural dyes in the Kebon Gedang Block. The main methods used in this study were semi-open interviews, observation, and documentation. The selection of respondents was carried out by purposive sampling by considering age (years), namely I (30-39), II (40-49), III (50-59), IV (> 60). The results showed that the level of knowledge of natural dyes and retention was highest in KU III because the people were still healthy, strong, and generally still actively following the development of the batik industry. However, KU III is the group with the highest change in knowledge and is feared to be lost. While at other KU levels, the inheritance of knowledge is still going well. The policy of retaining ethnobotanical knowledge of natural dyes can be carried out in several ways, including by creating books, booklet or electronic sites about knowledge of natural dyes, as well as by registering intellectual property rights. This research can record the current state of knowledge so that efforts can be made to avoid losing this knowledge.
Cite
CITATION STYLE
Jabar, M. A., Iryani, R., Nadifa, J. A., & Widiatningrum, T. (2025). Peralihan dan Regenerasi Pengetahuan Beserta Skema Kebijakan Retensi Etnobotani Pewarna Alami pada Masyarakat Blok Kebon Gedang Cirebon. Spizaetus: Jurnal Biologi Dan Pendidikan Biologi, 6(1), 106–115. https://doi.org/10.55241/spibio.v6i1.506
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.