Hubungan blue light pada perangkat elektronik dan tingkat stres dengan kualitas tidur remaja

  • Tambunan K
  • Ranggaswana D
  • Prakoso A
N/ACitations
Citations of this article
70Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan gadget sebelum tidur dapat mengganggu siklus tidur yang berdampak negatif pada kualitas tidur bahkan menyebabkan gangguan tidur. Stres juga salah satu faktor penyebab gangguan tidur, dimana peningkatan hormon dapat mempengaruhi sistem saraf pusat.Tujuan: Mengetahui hubungan antara blue light dan tingkat stres dengan kualitas tidur pada remaja.Metode: Metode kuantitatif dengan desain observasional analitik yang menggunakan cross-sectional. Pengambilan sampel non-probability menggunakan purposive.Hasil: Hasil uji kualitas tidur buruk 120 (63,5%), kualitas tidur baik 69 (36,5%), paparan cahaya biru tingkat rendah 59 (31,2%), paparan cahaya biru tingkat tinggi 130 (68,8%), tingkat stres berat 102 (54%), tingkat stres ringan 7 (3,7%) dan tingkat stres sedang 80 (42,3%). Hasil statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara paparan cahaya biru dan tingkat stres dengan kualitas tidur (p-value <0,05).Kesimpulan: : Kualitas tidur remaja terganggu karena banyak faktor yang mempengaruhi, seperti paparan cahaya biru dan tingkat stres, dimana faktor tersebut sangat berpengaruh dalam kualitas tidur menjadi tidak optimal.Pendahuluan: Paparan cahaya biru dari perangkat elektronik sebelum tidur berpotensi mengganggu ritme sirkadian dan menurunkan kualitas tidur pada remaja. Selain itu, tingkat stres yang tinggi juga dapat memengaruhi kualitas tidur melalui mekanisme peningkatan hormon stres yang berdampak pada sistem saraf pusat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan cahaya biru dan tingkat stres dengan kualitas tidur pada remaja di SMAN 1 Pebayuran. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 189 siswa kelas X yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur, Perceived Stress Scale (PSS) untuk tingkat stres, dan kuesioner khusus untuk mengukur paparan cahaya biru. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Sebanyak 120 responden (63,5%) memiliki kualitas tidur buruk, sementara 69 responden (36,5%) memiliki kualitas tidur baik. Paparan cahaya biru tingkat tinggi ditemukan pada 130 siswa (68,8%), dan tingkat stres berat dialami oleh 102 siswa (54%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara paparan cahaya biru dengan kualitas tidur (r = 0,628, p < 0,001) serta antara tingkat stres dengan kualitas tidur (r = 0,459, p < 0,001). Kesimpulan: Paparan cahaya biru yang tinggi dan tingkat stres yang berat berhubungan dengan kualitas tidur yang buruk pada remaja. Oleh karena itu, diperlukan edukasi mengenai pengelolaan paparan cahaya biru serta strategi pengelolaan stres guna meningkatkan kualitas tidur remaja. Key words: Kualitas tidur, paparan cahaya biru, remaja, tingkat stres

Cite

CITATION STYLE

APA

Tambunan, K. A., Ranggaswana, D. S., & Prakoso, A. D. (2025). Hubungan blue light pada perangkat elektronik dan tingkat stres dengan kualitas tidur remaja. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal, 16(01), 150–157. https://doi.org/10.34305/jikbh.v16i01.1573

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free