Abstract
Pada umumnya, generasi milenial saat ini memang sangat menggandrungi media sosial sebagai alat untuk berkomunikasi antar sesama, dan mencari informasi. Tak jarang pula, generasi milenial yang mayoritas terdiri dari para remaja ini terperangkap dalam budaya memproduksi konten yang menyalah. Hal ini terlihat dari perilaku sebagian mereka yang kerap mengunggah konten-konten pamer harta kekayaan, mengandung unsur semi pornografi, dan sebagainya yang tidak memiliki sedikit pun nilai edukasi dan motivasi di dalamnya. Abraham Maslow dalam Hierarki Kebutuhan Manusia memang pernah memerinci, bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah eksistensi diri. Seperti kebutuhan akan pengakuan dari orang lain dan lingkungan sekitar, bahwa dirinya tidak sekadar ada dan bernafas, tapi memang menarik untuk diikuti, disukai dan dikomentari gaya hidupnya. Terlebih pada era digital seperti sekarang ini, dimana remaja dapat mengekspresikan dirinya di mana pun dan kapan pun hanya dengan gawai, media sosial dan internet. Oleh karena itu, penelitian ini coba untuk merekonstruksi ulang pemanfaatan media sosial di kalangan remaja dalam artian yang positif. Penelitian ini berfokus pada penggunaan jenis media sosial TikTok. Baik itu pada aspek pengetahuan, sikap dan perilaku remaja dalam menghadirkan konten yang lebih informatif, edukatif, serta hiburan yang sehat, sehingga kreativitas dan produktivitas mereka dapat memberikan inspirasi bagi mereka yang menontonnya
Cite
CITATION STYLE
Andary, R. W., & Khairullah, K. (2023). MEDIA SOSIAL DAN EKSISTENSI REMAJA. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(3), 843–850. https://doi.org/10.55681/sentri.v2i3.676
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.