Abstract
Pendahuluan: Nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan reaksi mukokutan akut yang mengancam nyawa, ditandai nekrosis dan pelepasan epidermis yang luas. Angka kejadian NET pada anak jarang, sekitar 0,4-1,2 juta per tahun. Sebesar 60-90% kasus NET dicetuskan oleh obat dan 5-31% kasus dicetuskan oleh infeksi virus dan bakteri. Tatalaksana utama terhadap pasien NET adalah penghentian konsumsi obat yang dicurigai sebagai penyebab dan terapi suportif. Prognosis kasus ini dinilai dengan Pediatric SCORTEN secara berkala. Kasus: Perempuan, usia 13 bulan, ruam merah, lepuh, dan kulit mengelupas 1 hari setelah mengonsumsi obat tradisional yang terbuat dari campuran kulit kayu eboni, daun sirsak dan daun mangga. Pemeriksaan fisik pada regio generalisata didapatkan makula eritematosa-hiperpigmentasi, multipel, batas tegas, ukuran lentikular-plakat, bula multipel berdinding kendur berisi cairan jernih, erosi, epidermolisis, dan tanda Nikolsky positif. Diagnosis NET ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien mendapatkan terapi sistemik dan topikal. Pediatric SCORTEN pada hari perawatan pertama dan kelima masing-masing adalah 2 (angka mortalitas 12.1%). Setelah 20 hari perawatan pasien mengalami perbaikan klinis yang signifikan. Diskusi: Pada kasus ini, obat tradisional yang terbuat dari kulit batang kayu Diospyros celebica, daun Annona muricata, dan daun Mangifera indica mengandung komponen bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, dan tannin yang bersifat antimikrobial, dan diduga menjadi pencetus NET. Namun, dugaan infeksi virus sebagai pencetus NET belum dapat disingkirkan. Kesimpulan: Telah dilaporkan satu kasus NET pada anak diduga akibat obat tradisional yang ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Meskipun jarang, obat tradisional perlu diwaspadai sebagai pencetus NET.Pendahuluan: Nekrolisis epidermal toksik (NET) adalah reaksi mukokutan akut yang mengancam nyawa, ditandai dengan nekrosis dan pengelupasan epidermis luas. Kasus NET pada anak jarang terjadi, sekitar 0,4-1,2 juta per tahun. Sebagian besar kasus (60-90%) dipicu oleh obat, dan sebagian lainnya oleh infeksi virus atau bakteri. Tata laksana utama adalah menghentikan obat yang dicurigai sebagai penyebab dan terapi suportif. Prognosis kasus ini dinilai dengan Pediatric SCORTEN secara berkala. Kasus: Perempuan usia 13 bulan, mengalami ruam merah, lepuh, dan kulit mengelupas setelah mengonsumsi obat tradisional berbahan kulit kayu eboni, daun sirsak, dan daun mangga. Pemeriksaan fisik menunjukkan lesi makula eritematosa-hiperpigmentasi, multipel, bula multipel berdinding kendur, erosi, epidermolisis, dan tanda Nikolsky positif. Diagnosis NET ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien mendapatkan terapi sistemik dan topikal dengan hasil perbaikan klinis signifikan setelah 20 hari. Diskusi: Obat tradisional mengandung komponen bioaktif yang diduga memicu NET, namun infeksi virus belum dapat disingkirkan sebagai penyebab. Kesimpulan: Telah dilaporkan satu kasus pada NET pada anak diduga akibat obat tradisional yang ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Meskipun jarang, obat tradisional perlu diwaspadai sebagai pencetus NET.
Cite
CITATION STYLE
Putri, D., Adji, A., Mamuaja, E. H., & Mawu, F. O. (2025). SATU KASUS NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK PADA ANAK DIDUGA AKIBAT OBAT TRADISIONAL. Media Dermato-Venereologica Indonesiana, 52(1), 23–27. https://doi.org/10.33820/mdvi.v52i1.502
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.