Abstract
Hutan tanaman industri menuai kontroversi di\rbanyak wilayah dunia. Indonesia adalah contoh\rkasus menarik, dengan berlatar belakang sejarah\rkonflik, namun memiliki rencana ambisius untuk\rmelakukan perluasan wilayah hutan tanaman.\rOleh karena itu, pengetahuan mengenai dampak\rhutan tanaman industri menjadi penting bagi\rpembuat kebijakan dan pemodal, serta dapat\rmembantu merancang dan mengelola hutan\rtanaman lebih baik yang terintegrasi dengan\rbentang alam pedesaan.\rKami menerapkan dua metode: yang pertama\radalah survei rumah tangga terhadap 606\rresponden di tiga pulau (Jawa, Kalimantan dan\rSumatera), tiga spesies pohon (akasia, jati dan\rpinus) serta tiga produk akhir (bubur kayu,\rproduksi kayu dan produksi resin). Kedua, kami\rmenerapkan analisis metode Q di satu lokasi hutan\rtanaman bubur kayu besar untuk mengidentifikasi\rkeragaman pandangan penduduk. Survei rumah\rtangga yang ekstensif digabung dengan metode Q\rmenghasilkan gambaran representatif persepsi dan\rharapan penduduk desa.\rHasil survei rumah tangga menunjukkan bahwa\rhutan tanaman pinus dan jati cenderung berbeda\rdari hutan tanaman bubur kayu akasia dalam\rbeberapa hal, antara lain; dengan jumlah serta\rkeragaman manfaat dan jasa yang lebih tinggi,\rtingginya persepsi atas dampak yang positif\rsecara umum , catatan lingkungan yang lebih\rbaik, dan lebih banyaknya peluang untuk\rmemanfaatkan lahan dan produk hutan tanaman\rbagi penghidupan masyarakat desa. Hasil ini\rdapat dikombinasikan dengan fokus utama hutan\rtanaman akasia bagi pembangunan ekonomi dan\rinfrastruktur, baik dalam pengakuan pencapaian\rmasa lalu dan harapan akan kemajuan masa\rdepan serta perbaikannya. Hutan tanaman akasia\rmendapatkan pengakuan karena membuka\rdaerah terpencil dan menyediakan infrastruktur\rdan jasa yang sebenarnya merupakan tanggung\rjawab negara.\rAplikasi metode Q mengidentifikasi tiga\rkelompok yang memiliki perbedaan pandangan\rsebagai berikut: kelompok pertama menunjukkan\rantusiasme terhadap pengembangan hutan\rtanaman , termasuk pengakuan atas jasa\rlingkungan yang diberikan; sementara dua\rkelompok yang lain mengungkapkan kekecewaan,\rbaik pada seluruh aspek ataupun fokus terhadap\rpendapat bahwa hutan tanaman sebagai hambatan\rpembangunan daerah.\rData juga dipisahkan berdasarkan gender untuk\rmemungkinkan analisis yang lebih jauh. Variabel\rtanpa perbedaan yang signifikan antara perempuan\rdan laki-laki adalah variabel mengenai perubahan\rdramatis hutan tanaman terhadap lingkungan\rhidup dan caranya. Kami menemukan bahwa\rperempuan dan laki-laki cenderung memberikan\rtanggapan yang serupa mengenai dampak positif\rdan negatif, dengan perempuan mengutarakan\rpendapat sedikit lebih baik mengenai peristiwa.\rHal ini memberikan indikasi umum bahwa\rpengembangan hutan tanaman tidak berdampak\rlebih buruk terhadap perempuan dibanding\rlaki-laki.\rAnalisis kami mengarah pada beberapa saran\rperbaikan tata kelola hutan tanaman: peran\rnegara harus diperjelas dan dipertegas, kecuali\rjika beban pembangunan, termasuk infrastruktur,\rtetap dibebankan pada perusahaan. Berbagai\rpelajaran dapat diambil dari kasus jati dan\rpinus di Jawa dalam hal performa lembaga yang\rbertindak sebagai perantara antara perusahaan\rdan masyarakat. Kontribusi masyarakat harus \rdimungkinkan sejak tahap perencanaan. Hal ini\rperlu diterapkan dalam klaim lahan, organisasi\rburuh, termasuk jenis kontrak kerja yang\rdiprioritaskan, distribusi tata ruang hutan tanaman\runtuk menghindari wilayah yang memiliki nilai\rlokal, dan opsi berbagi lahan, karena hal-hal ini\ryang membuat ko-eksistensi bermakna.
Cite
CITATION STYLE
R., P., H., P., H., B., & R., A. (2016). Dampak Hutan Tanaman Industri di Indonesia: Analisis Persepsi Masyarakat Desa di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Dampak Hutan Tanaman Industri di Indonesia: Analisis Persepsi Masyarakat Desa di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Center for International Forestry Research (CIFOR). https://doi.org/10.17528/cifor/006137
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.