Space and Culture of Exclusive Gigolo Experience in Surabaya

  • Sarmini S
  • Lutfaidah A
  • Prastuti A
N/ACitations
Citations of this article
11Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

The existence of students in the community should play a role as a drafter, dynamist, and evaluator of various social changes. Something that has a positive impact on the community. But some of them do the opposite, having a negative impact on the community, such as acting as a gigolo, known as ‘exclusive gigolo’. This research presents the meaningful actions carried out by exclusive gigolo to attract sympathy and various actions in providing excellent service to clients. These actions were examined from the perspective of Max Weber's Theory of Social Action. This research used a qualitative approach with the perspective of Weber's theory. The research subjects were students who worked as gigolos, ranging from freelance to a lover (manstress). The informants were selected using the snowball sampling technique. Meanwhile, the data collection technique used is in-depth interviews. Data analysis and interpretation techniques are carried out with a deeper understanding (verstehen). There are gigolo social actions, within the framework of norm values, which become the blueprint of community behavior. First, the integration between rationality actions and instrumental rationality actions. These actions were found in activities, including: (1) Gigolo built his self-image: from self-expertise to intelligence in choosing marketing models; (2) Ignoring the feeling of shame as self-strengthening in facing various situations; (3) Client service actions: from holding hands to sexual activity. Second, the integration between rationality action and affective action. The highest achievement for gigolo is to become a lover (manstress). The intensity and the close relationship between a gigolo and the client can make both of them fall in love, like real love. In this context, the gigolo puts money as its main goal. On the other hand, gigolo realizes that the woman who is his client has a family, so it is impossible to have the love of the woman completely. This research concluded that: (1) The implementation of Max Weber's Theory of Social Action in gigolo social actions is integrated into one action with another, and; (2) Gigolo does not take traditional actions on the actions that have been taken.Keberadaan mahasiswa di masyarakat seharusnya berperan sebagai konseptor, dinamisator, dan evaluator berbagai perubahan sosial. Sesuatu yang berdampak positif pada masyarakat. Tetapi beberapa dari mereka melakukan yang sebaliknya, memiliki dampak negatif pada masyarakat, seperti bertindak sebagai gigolo, yang dikenal sebagai ‘gigolo eksklusif’. Penelitian ini menyajikan serangkaian tindakan bermakna yang dilakukan oleh gigolo eksklusif untuk menarik simpati dan berbagai tindakan dalam memberikan layanan terbaik kepada pelanggan. Tindakan-tindakan ini dicermati dari perspektif Teori Tikdakan Sosial Max Weber. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif teori Weber. Subjek penelitian adalah mahasiswa yang bekerja sebagai gigolo, mulai dari gigolo freelance hingga gigolo simpanan. Informan dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Sementara itu, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam. Analisis data dan teknik interpretasi dilakukan dengan pemahaman yang lebih mendalam (verstehen). Terdapat serangkaian tindakan sosial gigolo, dalam kerangka nilai-nilai norma, yang menjadi blueprint perilaku masyarakat. Pertama, integrasi antara tindakan rasional dan tindakan rasional instrumental. Tindakan ini ditemukan dalam kegiatan, diantaranya: (1) Gigolo membangun citra diri: mulai dari kepiawaian diri hingga kecerdasan dalam memilih model pemasaran; (2) Mengabaikan perasaan malu sebagai penguatan diri dalam menghadapi berbagai situasi; (3) Tindakan pelayanan pelanggan: mulai dari berpegangan tangan hingga aktivitas seksual. Kedua, integrasi antara tindakan rasional dan tindakan afektif. Prestasi tertinggi bagi gigolo adalah menjadi gigolo simpanan. Intensitas dan hubungan yang dekat antara gigolo dan pelanggan mampu membuat keduanya saling jatuh cinta, layaknya cinta yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, gigolo menempatkan uang sebagai tujuan utamanya. Disisi lain, gigolo menyadari bahwa wanita yang menjadi pelanggannya itu telah berkeluarga, sehingga tidak mungkin memiliki cinta dari wanita itu dengan seutuhnya. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa: (1) Implementasi Teori Tindakan Sosial Max Weber dalam tindakan-tindakan sosial gigolo ini terintegrasi dalam satu tindakan dengan tindakan yang lain, dan; (2) Gigolo tidak melakukan tindakan tradisional pada tindakan-tindakan yang telah dilakukan.

Cite

CITATION STYLE

APA

Sarmini, S., Lutfaidah, A., & Prastuti, A. E. (2020). Space and Culture of Exclusive Gigolo Experience in Surabaya. Society, 8(1), 64–82. https://doi.org/10.33019/society.v8i1.144

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free