Abstract
Terung belanda (Solanum betaceum) merupakan buah dataran tinggi yang memiliki nilai ekonomi serta potensi fungsional sebagai sumber senyawa bioaktif dan pigmen alami. Namun demikian, kajian yang mengaitkan kondisi agroekosistem dengan karakteristik fisik, kimia, dan fungsional buah ini masih terbatas di wilayah tropis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas buah Terung Belanda yang dibudidayakan pada dua agroekosistem dataran tinggi di Sumatera Barat, yaitu : Alahan Panjang (Solok) dan Bukik Batabuah (Agam). Karakteristik fisik, kimia, dan fungsional yang diamati, dianalisis secara statistik menggunakan uji t independen (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah yang berasal dari Alahan Panjang menunjukkan karakteristik yang lebih unggul, meliputi ukuran buah yang lebih besar, tekstur yang lebih kuat, kandungan nutrisi yang lebih tinggi, intensitas warna yang lebih pekat, aktivitas antioksidan yang lebih kuat, serta daya hambat antimikroba yang lebih tinggi terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Meskipun buah dari Bukik Batabuah menunjukkan performa yang relatif lebih rendah, lokasi tersebut tetap memiliki potensi sebagai daerah produksi apabila didukung dengan praktik budidaya dan pascapanen yang dioptimalkan. Temuan ini menegaskan peran kondisi agroekosistem dataran tinggi dalam menentukan kualitas buah terung belanda dan menyoroti potensinya sebagai pangan fungsional alami. Penelitian ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) ke-2 (Tanpa Kelaparan), ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Kata kunci: Agroekosistem, Fisiko-kimia, Fungsional, Karakteristik, Terung Belanda.Tamarillo (Solanum betaceum) is a highland fruit species endowed with considerable economic significance and functional potential as a natural source of bioactive compounds and pigments. Nevertheless, comprehensive investigations elucidating the interplay between agroecosystem conditions and the morphological, chemical, and functional attributes of this fruit remain scarce in tropical regions. The present study aimed to compare the quality characteristics of tamarillo fruits cultivated under two distinct highland agroecosystems in West Sumatra—Alahan Panjang (Solok) and Bukik Batabuah (Agam). Analyses encompassed assessments of physical, chemical, and functional properties, with data evaluated using independent t-tests (α = 0.05).Tamarillo fruits originating from Alahan Panjang exhibited superior quality attributes, characterized by larger fruit size, firmer texture, enhanced nutritional composition, higher color intensity, stronger antioxidant capacity, and greater antimicrobial activity against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Although fruits from Bukik Batabuah demonstrated comparatively lower performance, the site nonetheless possesses potential as a production area when supported by optimized cultivation and postharvest management practices.These findings underscore the pivotal influence of highland agroecosystem conditions on tamarillo fruit quality and reinforce its value as a natural functional food resource. Furthermore, this research contributes to advancing the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), specifically Goal 2 (Zero Hunger), Goal 3 (Good Health and Well-being), Goal 8 (Decent Work and Economic Growth), and Goal 12 (Responsible Consumption and Production). Keywords: Agroecosystem, Functional Characteristics, Phytochemical Properties, Physical Attributes, Tamarillo (Solanum betaceum).
Cite
CITATION STYLE
Rahmi, R. H., Yusniwati, Anggraini, T., & Syukri, D. (2025). Karakteristik Fisik, Kimia, dan Fungsional Buah Terung Belanda (Solanum betaceum) dari Dua Agroekosistem Dataran Tinggi di Sumatera Barat. Pasundan Food Technology Journal, 12(3), 209–218. https://doi.org/10.23969/pftj.v12i3.35471
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.