Perlukah Filsafat Ber-Lokalitas-Naratif di Sekolah Dasar?

  • Trisiana R
  • Alfonso Munte
  • Christine Akuilla Betaubun
  • et al.
N/ACitations
Citations of this article
19Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Kesenjangan rupa pembelajaran di Sekolah Dasar dan hasil tidak hanya berada di sekolah remote area, tetapi juga di sekolah-sekolah perkotaan termasuk sekolah bertaraf internasional. Meskipun sama-sama mempunyai tantangan masing-masing melalui ragam permasalahan yang ada, bukan berarti membuka ruang kesempatan untuk membanding dan memutuskan sekolah di perkotaan-internasional menjadi Sekolah Dasar terbaik. Tantangan Sekolah Dasar di daerah, bahkan penulis menggolongkannya sebagai lokalitas remote area mempunyai ragam keterbatasan, namun peneliti tetap perlu menggali harta karun pembelajaran guru di sekolah SD dan SMP. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik wawancara dengan merekam pembicaraan subjek penelitian sebagai lintasan pengalaman mengajar guru. Tujuan penelitian ini untuk menghindangkan mutiara harapan dan seluk beluk pemberdayaan guru mengenai kehidupan pembelajaran peserta didik di SDN Penda Pilang dan di SMPN 1 Atap Kurun, Kalimantan Tengah melalui lensa filsafat pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalitas guru terlihat melalui pola pengasuhan: penerjemahan tanggung jawab, ruang kreasi, kepedulian, cinta kasih, disiplin dan penghindaran terhadap kekerasan.

Cite

CITATION STYLE

APA

Trisiana, R., Alfonso Munte, Christine Akuilla Betaubun, Reynhard Malau, & Handriantu. (2023). Perlukah Filsafat Ber-Lokalitas-Naratif di Sekolah Dasar? Madako Elementary School, 2(1), 1–21. https://doi.org/10.56630/mes.v2i1.171

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free