PEMIKIRAN HOWARD GARDNER DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

  • Fadhli M
N/ACitations
Citations of this article
10Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Abstrak Janji-janji kemerdekaan Indonesia telah diucap oleh para pelaku sejarah, salah satu janjinya adalah turut mencerdaskan kehidupan bangsa, tentunya janji tersebut belum sepenuhnya terpenuhi, generasi tersebut telah berlalu, namun tidak dengan janji yang terucap, janji tersebut akan tetap terpateri dalam sanubari para generasi sesudahnya, kitalah yang harus turut serta melunasi janji, meski mulut tak mengucap namun pnggilan jiwa lah yang menggerakkan hati dan pikiran untuk turun tangan memandu untuk terwujudnya janji tersebut. Secara kodrati anak dilahirkan dengan berjuta keunikan, bahkan anak yang terlihat kembar tak selamanya memiliki kemiripan dalam semua hal, perlu disadari bahwa tugas untuk mendidik anak melekat pada setiap insan, mendidik adalah memimpin anak dan semua manusia terlahir menjadi seorang pemimpin. Mendidik bukanlah pekerjaan, terlebih dari itu mendidik seharusnya lebih tinggi daripada sekedar mencari penghasilan, mendidik seyogyanya adil, mengertti, dan membawa anak menuju manusia susila mulia. Artikel ini akan membahas tentang mendidik anak ditinjau dari berbagai aspek filosofis dan teoritis menurut pemikiran Howard Gardner. Kata kunci: Pendidikan, Filsafat, Anak, Howard gardner PENDAHULUAN Dinamika pendidikan di Indonesia telah melalui berbagai dimensi dan sudut pandang, pelbagai teori dan metode dicobakan dalam upaya memajukan dan mengembangkan potensi anak, ibarat angka 100 kita dihadapkan akan berbagai point of view tentang bagaimana mendidik anak, sehingga untuk menuju angka 100 kita bisa leluasa memilih 50 tambah 50, 200 dibagi dengan 2 atau berbagai kemungkinan lainnya, tentu hal ini hanya sebuah analogi tentang bagaimana kita bersikap, sama-sama ingin mencapai kesempurnaan namun berbagai cara dan proses dilakukan untuk menempuh dan berupaya sebaik mungkin mencapai kesempurnaan tersebut. Mendidik juga merupakan sebuah proses panjang dan niscaya tidak akan berakhir selama peradaban manusia masih eksis, sehingga formulasi dalam cara mendidik akan selalu berubah seiring dengan perkembangan dan tuntutan era. John Locke dengan Tabularasanya menganggap bahwa anak dilahirkan merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang anak lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain "kosong", dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya. (John Locke, 1704). Lain halnya dengan aliran nativisme yang memandang bahwa anak yang terlahir di dunia sudah membawa bakat dari orangtua dan nenek moyangnya, aliran Nativisme menyatakan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor keturunan atau bawaan sejak lahir (Samuel, 2008). Aliran nativisme percaya bahwa jika anak mempunyai bakat jahat maka ia akan menjadi jahat. Tetapi jika memiliki bakat baik maka ia akan menjadi baik. Aliran ini mengakibatkan pesimistis di dunia pendidikan, karena pendidikan menjadi

Cite

CITATION STYLE

APA

Fadhli, M. (2016). PEMIKIRAN HOWARD GARDNER DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI. Jurnal INDRIA (Jurnal Ilmiah Pendidikan Prasekolah Dan Sekolah Awal), 1(1), 69–80. https://doi.org/10.24269/jin.v1n1.2016.pp69-80

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free