Journal article

EKONOMI KULTURAL SEBAGAI KRITIK ATAS EKONOMI NEOKLASIK

Nasution A ...see all

Dimensi, vol. 4, issue 3 (2015)

  • 1

    Readers

    Mendeley users who have this article in their library.
  • N/A

    Citations

    Citations of this article.
Sign in to save reference

Abstract

Abstrak Perdebatan dan pemikiran mengenai ekonomi pada akhir-akhir ini menunjukkan bahwa keberhasilan dinamika ekonomi yang tumbuh cepat di asia timur terjadi bukan karena mengikuti aturan-aturan neo klasik, tetapi malah melanggarnya. Menurut kaum neomerkantilis, keberhasilan itu bukan disebabkan oleh karena kinerja pasar bebas yang tak terbatas, tetapi karena dalam setiap kasus pemerintah mereka selalu mendukung upaya pengembangan melalui kebijakan-kebijakan industry yang tepat. Sementara Amerika terlena dengan dengan ekonomi berorientasi pasar, kebikajan ekonomi di dunia diluar amerika berjalalan diatas asumsi yang sangat berbeda dengan aturan-aturan ekonomi neoklasik. Banyak pemerintah Asia, misalnya melindungi industry-industri domestic dengan penetapan tariff import yang tinggi, membatasi penanaman modal asing, mempromosikan eksport melalui kredit murah dan subsidi penuh, menjamin berbagai lisensi untuk mendukung perusahaan, mengorganisir kartel-kartel untuk memobilisasi biaya penelitian dan pengembangan dan mengalokasikan pembagian pasar. Keyword : Pembangunan, Budaya, Ekonomi. Neoklasik Pendahuluan Banyak orang beranggapan bahwa sistem ekonomi yang ada di semua negara pasca usainya perang dingin pasti akan mengadopsi ekonomi liberal atau ekonomi neoklasik. Anggapan ini didasarkan pada runtuhnya system ekonomi sosialis yang secara menarik disebut oleh Francis Fukuyama sebagai akhir sejarah (the End Of History). Dengan perkataan lain hanya ada system tunggal ekonomi yang tersisa didunia yaitu system kapitalis yang merupakan dasar ekonomi aliran neoklasik. Hal ini berdasarkan pengamatan Fukuyama, sejak kejatuhan ideology komunisme, lonjakan besar terjadi dalam perubahan ideology Negara-negara dunia. Sebagai contoh dari tahun 1975 sampai dengan 1990 saja terdapat kenaikan Negara yang mengganti system ideologi sebanyak 30 negara dan pada saat ini hampir seluruh Negara di dunia sudah memakai system demokrasi liberal kapitalisme. Disamping itu, Fukuyama menemukan fakta bahwa Negara-negara yang merubah system ideologinya ke liberalism kapitalisme (sebelumnya memakai system fasisme atau komunis) secara statistik mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa seperti yang ditunjukkan oleh Spanyol, Pilipina, Afrika selatan, Peru dan banyak Negara lainnya.

Get free article suggestions today

Mendeley saves you time finding and organizing research

Sign up here
Already have an account ?Sign in

Find this document

There are no full text links

Authors

  • Ade Parlaungan Nasution

Cite this document

Choose a citation style from the tabs below

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free