Penelitian ini membahas tentang makna tradisi mamanggia bako pada ritual kematian di Nagari III Koto Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana prosesi tradisi mamanggia bako dan juga untuk memahami makna yang terdapat dalam tradisi mamanggia bako. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori interpretatif simbolik dalam pemikiran Clifford Greetz dan teori ritus dalam pemikiran Victor Turner. Makna dari tradisi mamanggia bako ini adalah menjaga tali silaturahmi dalam kekerabatan antara bako dengan anak panca sekaligus untuk memperjelas garis keturunan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan datanya adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun temuan dalam penelitian ini adalah ketika seseorang meninggal maka yang wajib diberitahu atau dipanggil adalah keluarga dari pihak ayah atau yang disebut dengan bako. Dalam tradisi mamanggia bako ini ada tiga tahapan ritual yaitu memberitahukan kepada bako atas meninggalnya anak panca mereka. Yang kedua merundingkan tempat pemakaman, pada tahap ini bako wajib menawarkan tanah mereka untuk tempat pemakaman dan kadarek. Kadarek dilakukan pada pagi hari bersamaan dengan manjujuang pariyuak dari rumah bako ketempat keluarga almarhum. Pariyuak tersebut diisi dengan beras, telur, pisang, batiah, dan kue telur
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.
CITATION STYLE
Ulfitri, A., Suharti, S., & Kahanna, M. (2021). Makna Tradisi Mamanggia Bako pada Ritual Kematian di Nagari III Koto Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Ethnography : Journal of Cultural Anthropology, 1(2), 1. https://doi.org/10.26887/ethnography.v1i1.2221