Sindrom Kardiorenal adalah penyakit multi-organ, meliputi jantung, ginjal dan disfungsi sistem vaskular dimana gangguan ginjal sering disertai dengan gagal jantung dan disfungsi jantung menyebabkan Acute Kidney Injury (AKI) atau Cronic Kidney Disease, yang berujung kepada kebutuhan akan tindakan hemodialisis. Tindakan hemodialisis dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Komplikasi yang paling sering adalah hipotensi intradialitik. Salah satu upaya untuk mencegah gangguan stabilitas tekanan darah adalah dengan mengatur suhu dialisat. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh suhu dialisat terhadap stabilitas tekanan darah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif quasi experiment, pre and post test dimana peneliti akan memberikan intervensi pada subyek penelitian, kemudian membandingkan efek sebelum dan sesudah intervensi. Penelitian ini dilakukan pada 18 pasien dengan pre test dan post test dalam satu kelompok. Pasien dinilai selama dua sesi dialisis; satu sesi dengan suhu dialisat normal (37ºC) dan di sesi lain, suhu dialisat rendah (35,5ºC). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan darah sistolik, diastolik dan Mean Arterial Pressure (MAP) secara signifikan dengan nilai p = 0,001. Dialisat suhu rendah sangat bermanfaat untuk meningkatkan toleransi terhadap dialisis pada pasien sindrom kardiorenal yang cenderung hipotensi dan menjaga stabilitas hemodinamik selama dan setelah dialisis. Kata kunci: Dialisat dingin, hemodialisis, tekanan darah
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.
CITATION STYLE
Wahidi, K. D., Nursanti, I., Irawati, D., Jumaiyah, W., & Yuniarsih, W. (2022). PENGARUH PENGATURAN SUHU DIALISAT TERHADAP STABILITAS TEKANAN DARAH INTRADIALITIK PASIEN HEMODIALISIS DENGAN SINDROM KARDIORENAL. Jurnal Perawat Indonesia, 6(2), 1096–1108. https://doi.org/10.32584/jpi.v6i2.1762