Seen from various views that tahlilan is a tradition that has been carried out by some people for generations to commemorate the time of someone's death. Many think that tahlilan does not need to be done because it can add to the burden on the family left behind, but on the other hand tahlilan can also be a medium to connect and entertain the family left behind. Therefore, the authors are interested in studying about it. The method used is a qualitative descriptive approach which aims to collect detailed actual information that describe the existing symptoms. The results of this study have illustrated that tahlilan has become a tradition and should continue to be preserved as a culture that has Islamic values in order to carry out social worship while increasing dhikr to Allah SWT. Dilihat dari berbagai pandangan bahwa tahlilan merupakan tradisi yang sudah dijalani oleh sebagian masyarakat secara turun-temurun untuk memperingati waktu kematian seseorang. Banyak yang beranggapan bahwa tahlilan tidak perlu dilakukan karena dapat menambah beban keluarga yang ditinggalkan, namun di sisi lain tahlilan bisa juga sebagai media untuk menyambung tali silaturahmi dan menghibur keluarga yang ditinggalkan. Oleh karena itu, penulis cukup tertarik untuk menganalisis hal tersebut. Metode yang digunakan ialah pendekatan deskriftif kualitatif yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang menggambarkan gejala yang ada. Hasil penelitian ini telah menggambarkan bahwa tahlilan sudah mentradisi dan hendaknya terus dilestarikan sebagai salah satu budaya yang bernilai Islami dalam rangka melaksanakan ibadah sosial sekaligus meningkatkan dzikir kepada Allah SWT.
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.
CITATION STYLE
Sisma Yani Tumanggor, & Syam, N. K. (2024). TRADISI TAHLILAN UPAYA MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI. HIKMAH : Jurnal Dakwah Dan Sosial, 19–24. https://doi.org/10.29313/hikmah.v4i1.3340