Leptospirosis ialah penyakit infeksius yang diakibatkan oleh bakteri motil dari genus Leptospira. Prevalensi leptospirosis pada anjing di Indonesia berkisar 13,8% – 44% dengan varian Leptospira antara lain serovar Ichterohaemorrhagiae, Celledoni, Canicola, Pyrogenes, Cynopteri, Rachmati, Bataviae, Javanica, Grippotyphosa dan Tarrasovi. Leptospira sp. dapat ditularkan melalui kontak langsung atau melalui tanah dan air yang terkontaminasi Leptospira sp. Hewan pengerat, babi, kuda, hewan ternak, anjing dan berbagai hewan liar seperti tupai dan rusa dapat berperan sebagai karier Leptospira. Gejala klinis leptospirosis pada anjing di Indonesia berupa demam, letargi, anoreksia, muntah, ikterus, gangguan ginjal, dispnea, poliuria, urin berwarna kuning, dehidrasi dan kematian. Gold standard pengujian leptospirosis pada anjing adalah MAT, namun uji PCR dan ELISA memiliki sensitivitas yang lebih tinggi. Upaya pencegahan kejadian leptospirosis dilakukan dengan vaksinasi, penggunaan disinfeksi rutin pada lingkungan kandang dan mencegah anjing kontak langsung dengan hewan reservoir seperti tikus.
CITATION STYLE
Wiyata, R. P. K. T., & Nugroho, W. (2021). Review: Leptospirosis pada Anjing di Indonesia. Veterinary Biomedical and Clinical Journal, 3(2), 7–22. https://doi.org/10.21776/ub.vetbioclinj.2021.003.02.2
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.