Pendidikan terhadap generasi muda disadari sangat kompleks. Pendidikan dijalankan sebagai alat control politik dengan orientasi pada kepatuhan sesuai dengan kehendak pemerintah dan menggagalkan proses pengembangan kesadaran nilai-nilai kemanusiaan dan pembentukan hati secara biadab dan bermoral. Para pendidik dituntut dengan berbagai peraturan yang ketat sehingga para pendidik kurang memperhatikan factor perkembangan kepribadian anak didik yang dewasa dan bermoral, nilai-nilai kemanusiaan dan iman yang sangat perlu di tumbuh kembangkan pada anak didik. Melihat situasi ini maka para pendidik yang bekecimpung dalam sekolah kristiani perlu menggali dan mengembangkan spritualitas Hati Kudus agar dalam menjalankan tugasnya secara professional berdasarkan penghayatan imannya. Konkretisasi pengembangan spiritualitas hati dalam bidang pendidikan adalah memihak kepada yang miskin (pengetahuan, spiritual, afeksi, emosi maupun primer), promosi keadilan, paguyuban dan kerjasama, demoktratisasi. Dampak konkretisasi spiritualitas hati adalah membebaskan orang dari ketakutan, acuh tak acuh pada sesama yang lemah, miskin, menderita, terpinggirkan dan tak berdaya, memiliki ketulusan dalam pelayanan, memiliki sikap rela berkorban, kesetiaan, memiliki pengharapan yang teguh dan yakin akan kasih dan kebaikan Allah. Warga sekolah diajak sebagai pelaku budaya cinta. Orang lain tidak lagi dilihat sebagai obyek atau sarana yang dapat dipakai tetapi sebagai subyek. Warga pendidik dipanggil untuk menjadi penabur dan pelaku budaya cinta.
CITATION STYLE
Wula, P. (2016). Sumbangan Pemikiran Pengembangan Spiritualitas Hati Kudus Dalam Bidang Pendidikan. Jurnal Masalah Pastoral, 4(2), 62–77. https://doi.org/10.60011/jumpa.v4i2.30
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.