STUDI SEMIOTIKA PERANG BANGKAT: ERA TRADISIONAL DAN ERA MODERNISASI

  • Shomad A
N/ACitations
Citations of this article
6Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Abstrak Upacara adat perang bangkat merupakan salah satu bukti keragaman kebudayaan yang ada di Banyuwangi. Adat ini dilaksanakan dalam acara temu pengantin pada suku Osing, namun tidak semua acara temu pengantin menggunakan Upacara Adat Perang Bangkat. Perang Bangkat digunakan apabila pengantin merupakan anak sulung dan bungsu dalam keluarganya. Maksudnya ialah apabila pengantin pria merupakan putra pertama dari sebuah keluarga dan menikah dengan putri bungsu dari keluarga lain harus dilakukan upacara adat Perang Bangkat, begitu pula sebaliknya. Era modernisasi, menyingkirkan adat ini secara perlahan. Terbukti dengan generasi muda lebih menyukai acara pernikahan yang simple dan kebaratan. Kata kunci: adat, Osing, modernisasi Abstract The traditional ceremony perang bangkat is one proof of the diversity of cultures that exist in Banyuwangi. This traditional gathering held in the bride on Osing tribes, but not all gathering brides use perang Bangkat Ceremony. War Bangkat used when the bride is the eldest and youngest child in his family. The idea is if the groom is the eldest son of a family and is married to the youngest daughter of another family have to do ceremonies perang bangkat, and vice versa. Modernization, gradually get rid of this custom. Evidenced by the younger generation prefers the simple wedding ceremony and westernized.

Cite

CITATION STYLE

APA

Shomad, A. (2016). STUDI SEMIOTIKA PERANG BANGKAT: ERA TRADISIONAL DAN ERA MODERNISASI. HISTORIA, 4(2), 103. https://doi.org/10.24127/hj.v4i2.542

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free