SISI KELAM SEJARAH (POLITIK) ISLAM

  • Ibad T
N/ACitations
Citations of this article
13Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

K eberanian mengungkap sisi kelam sejarah (politik) Islam telah menyeretnya ke gigir takdir. Farag Fouda rebah bersimbah darah setelah serentetan tembakan dua anggota Jamaah Islamiyah di siang yang naas, 8 Juni 1992, menerjang tubuhnya. Seketika Fouda meregang nyawa. Kematian tragis Fouda diilhami oleh perdebatan sengit dua kubu ideologis di Mesir, sekularis dan islamis, dalam rangka Pameran Buku Kairo pada bulan Januari 1992. Fouda adalah tokoh sentral kubu sekularis. Tema perdebatan itu tergolong klasik. Seputar hubungan agama dan politik, negara dan agama, penerapan syariat Islam, dan institusi khilafah. Konflik dua kubu ideologis ini sebenarnya telah berlangsung lama. Sejak tahun 1980-an dan kian meruncing di tahun 1990-an. Tumbal Hegemoni Dengan menghamparkan data-data historis kebrutalan rezim khilafah pasca mangkatnya Muhammad, Fouda getol menolak politisasi Islam dalam isu pembentukan negara Islam serta penerapan hukum syariat Islam di Mesir yang digaungkan kubu islamis. Dus, realitas sosial (masyarakat) Mesir yang plural menjadi 222 Millah Edisi Khusus Desember 2010 kendala utama terwujudnya tuntutan kubu islamis tersebut. Fouda terus membumikan pemikirannya, baik melalui debat publik, menulis buku, maupun berpolemik di media massa. Tapi, celaka tiga belas. Iklim keagamaan Mesir kian memanas dan tampil dengan paras yang garang. Puncaknya, tanggal 3 Juni 1992 sekelompok ulama Universitas al-Azhar mengeluarkan fatwa bahwa Fouda, berdasar pemikiran dan tulisannya, dianggap menghujat agama Islam dan, karena itu, telah murtad. Implikasi fatwa ini, Fouda adalah musuh Islam dan halal darahnya. Dalam konteks ini, Fouda tidak sendirian. Banyak tokoh keagamaan yang segendang sepenarian. Sebut saja, misalnya, Nasr Hamid Abu Zayd. Ia juga ditakfirkan para ulama Kairo pada tahun 1992 akibat pemikirannya yang radikal dan menabrak arus mainstream pemahaman keagamaan. Beruntung ia tidak bernasib seperti Fouda karena segera hijrah ke Leiden Belanda. Demikian halnya Najib Mahfuz. Sastrawan Sungai Nil yang menyabet Nobel kesusastraan pada 1988 ini juga menjadi korban kebrutalan konflik politik-keagamaan Mesir. Walau sempat ditikam berkali-kali oleh seseorang atas perintah Syekh Umar Abdurrahman pada 14 Oktober 1994, tapi ia tak senelangsa Fouda. Najib luput dari sergapan maut. Rekam jejak pemikiran Fouda dapat ditelusuri dalam beberapa buku. Misalnya, Hiwâr Hawla al-'Almâniyyah (polemik seputar sekularisme), Qablas Shuqûth (polemik tentang formalisasi syariat), an-Nazîr (penelitian tentang bahaya ekstremisme beragama), al-Mal'ûb (tentang skandal pencucian uang dan bank syariah), al-Irhâb (mengupas asal-usul pemikiran terorisme), dan al-Haqîqah al-Ghâybah (kritik terhadap sejarah politik Islam). Sayangnya, pemikiran revolusioner Fouda dalam buku-buku tersebut hingga kini dilarang beredar di pasar perbukuan Mesir. Persis seperti yang pernah dialami Pramoedya Ananta Toer di Indonesia semasa rezim tirani Orde Baru berkuasa, buku-buku Fouda menyebar secara terbatas dan dibaca sembunyi-sembunyi di bawah bayang-bayang ketakutan. Di Indonesia pun, sosok dan pemikiran Fouda belum begitu membumi. Gaungnya masih kalah gelegar dengan tokoh pemikir Islam revolusioner lain seperti Syahrur, Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Fazlur Rahman, dan sebagainya. Maka, ketika buku berumbul Kebenaran yang Hilang ini terbit kita seperti ketiban bulan.

Cite

CITATION STYLE

APA

Ibad, T. (2010). SISI KELAM SEJARAH (POLITIK) ISLAM. Millah, ed(khus), 221–224. https://doi.org/10.20885/millah.ed.khus.art13

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free