PROSES KURATORIAL SEBAGAI TRANSFER PENGETAHUAN SENI RUPA STUDI KASUS PADA PAMERAN SENI RUPA “KAYON”

  • Permana A
N/ACitations
Citations of this article
28Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa proses kuratorial sebagai transfer pengetahuan seni rupa pada pameran seni rupa Kayon. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Dalam studi kasus selain wawancara mendalam, ada lima teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yakni dokumentasi, observasi langsung, observasi terlibat (participant observation), dan artifak fisik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transfer ilmu dan pengetahuan secara informal dalam mengembangkan kemampuan menjadikan kelompok dan komunitas seni sebagai penggerak utama pergerakan seni rupa. Metode asih, asah dan asuh yang diterapkan dalam pelaksanaan pameran oleh Rain Rosidi sebagai kurator merupakan pendekatan idela yang dapat dilakukan. Asih, asah dan asuh ini menjadi metode yang memberikan tanggung jawab bersama para perupa senior untuk membantu regenerasi dan menanamkan pentingnya berbagi ilmu lewat pendidikan informal. Hingga ke depannya bisa melahirkan generasi perupa Kulon Progo yang memiliki karakter yang berbeda dari kabupaten-kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.CURATORIAL PROCESS AS KNOWLEDGE TRANSFER CASE STUDY ON THE “KAYON” FINE ART EXHIBITIONThis study aimed to analyze the curatorial process as a transfer of art knowledge at the Kayon art exhibition. This research was a qualitative study using the case study method. In a case study, apart from in-depth interviews, there are five data collection techniques: documentation, direct observation, participant observation, and physical artifacts. This study indicates that the transfer of knowledge and knowledge informally in developing the ability to make art groups and communities the main actors of the fine arts movement. The compassion, honing, and nurturing method applied in the exhibition by Rain Rosidi as curator was an ideal approach that can be taken. Asih, asah, and asuh were methods that share responsibility for senior artists to help regenerate and instill the importance of sharing knowledge through informal education. So that in the future, it can give birth to a generation of Kulon Progo artists who have different characters from other regencies in Yogyakarta.Keywords: curatorial, fine arts, kayon

Cite

CITATION STYLE

APA

Permana, A. S. (2021). PROSES KURATORIAL SEBAGAI TRANSFER PENGETAHUAN SENI RUPA STUDI KASUS PADA PAMERAN SENI RUPA “KAYON.” Jurnal Penelitian Humaniora, 26(1), 14–25. https://doi.org/10.21831/hum.v26i1.40152

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free