Abstract
Orientalis mempunyai anggapan bahwa metode ahli hadis hanya terfokus padaanalisis sanad. Lebih dari itu, mereka juga mengkritisi metode analisis sanad tersebutdan menganggapnya problematis. Di antara orientalis yang banyak membahas masalah sanad adalah G.H.A. Juynboll. Selain sepakat dengan para pendahulunya mengenaitidak komprehensifnya metode ahli hadis, Juynboll juga mengemukakan argumen bahwametode analisis sanad yang diterapkan ahli hadis bermasalah. Ilmu al-jarh} wa al-ta’di>l –yang merupakan aspek terpenting dalam analisis sanad- menurut Juynboll sangatproblematis, alasannya bisa dilihat dari dua sebab; pertama, standar penilaian perawiyang digunakan tidak objektif. Indikasinya adalah banyak penilaian yang hanyadidasarkan kepada ketidaksukaan terhadap suatu daerah (regionalism); maksudnya dimasa awal periwayatan hadis terdapat pertentangan antara satu daerah dengan daerahlain, sehingga para perawi dari satu daerah tidak mau meriwayatkan hadis dari daerahlain. Seperti pertentangan yang terjadi antara perawi Madinah dan Irak, atau antaraperawi Irak dan Syiria. Kedua, banyak istilah yang mengalami perkembangan maknasehingga maksudnya bisa berbeda-beda. Untuk itu, melalui artikel ini penulis berupayamengkritisi pendapat tersebut dan akan menguji tingkat pemahaman Juynboll terhadapmetode analisis ahli hadis, terutama dalam masalah al-jarh} wa al-ta‘di>l. Sehingga nantinyaakan terlihat sejauh mana sebenarnya akurasi kritikan yang diberikan orientalis (dalamhal ini Juynboll) terhadap metode ahli hadis.Kata Kunci: al-Jarh} wa al-Ta‘di>l, Perawi, Sanad, Regionalisme, S{a>lih}, Ahli Hadis,Orientalis.
Cite
CITATION STYLE
Muna, A. C. (2016). Kritik Pandangan G.H.A. Juynboll terhadap Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil. KALIMAH, 14(1), 13. https://doi.org/10.21111/klm.v14i1.359
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.