Abstract
Ekstraksi fibroin dilakukan dengan perlakuan suhu dan waktu tanpa diketahui maksimal atau tidaknya capaian rendemen yang dihasilkan. Padahal data tersebut sangat penting untuk estimasi profitabilitas pada usaha hilir ulat sutera. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi ekstraksi (degumming) yang menghasilkan rendemen fibroin optimum. Metode yang digunakan adalah optimasi ekstraksi fibroin menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan tiga variabel bebas (konsentrasi NaOH, suhu dan waktu). Variabel tersebut diformulasikan dalam rancangan percobaan Central Composite Design (CCD) menggunakan titik pusat NaOH 0,1 N, suhu 105 °C selama 30 menit. Pada rancangan percobaan tersebut, rendemen bobot fibroin (%) digunakan sebagai respon (variabel terikat) untuk menghasilkan kondisi optimum. Kondisi tersebut berupa formulasi variabel bebas yang mengoptimumkan rendemen fibroin. Kondisi optimum Bombyx mori dicapai pada konsentrasi NaOH 0,018 N, suhu 110,53 °C dan waktu 55,51 menit pada satu kali degumming dengan perolehan rendemen fibroin sebesar 71,11 ± 0,98%. Rendemen fibroin optimum sebesar 83,06 ± 1,50% pada Attacus atlas dihasilkan dari kondisi optimum NaOH 0,12 N, suhu 79 °C selama 42,65 menit pada dua kali degumming. Metode ekstraksi fibroin yang tepat akan menghasilkan rendemen fibroin yang optimum.
Cite
CITATION STYLE
Endrawati, Y. C., Solihin, D. D., Suryani, A., & Subyakto, S. (2017). Optimasi Rendemen Fibroin Ulat Sutera Bombyx mori L. dan Attacus atlas L. dengan Response Surface Methodology. Agritech, 37(2), 205. https://doi.org/10.22146/agritech.10497
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.