Abstract
Aktivitas manusia sehari-hari memiliki kebutuhan akan kendali atas interaksi dengan orang lain yang berlebihan secara akustik, visual, maupun fisik. Penelitian ini menganalisis ulang data sekunder yang diambil untuk disertasi yang tidak dipublikasikan, berupa hasil survei terhadap 87 responden di dua pusat urban di Yogyakarta, Pecinan dan Kauman, yang dipersempit menjadi 30 subjek. Survei mengujikan jarak sosial melalui hubungan interpersonal untuk aspek privasi akustik, visual dan fisik, berdasarkan kategori “orang asing”, “pelanggan”, “pekerja/pelayan”, “teman”, “keluarga” dan “diri sendiri”. Dari setiap kategori, jawaban responden terganggu atau tidak akan memberi nilai nihil atau ada untuk 16 jenis kegiatan seharihari yang mencakup kegiatan pribadi hingga sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa kebutuhan privasi responden berbeda-beda yang dipengaruhi oleh situasi sosial lingkungan hunian mereka. Responden cenderung mengabaikan “teman” dan sangat sedikit mengakui “diri sendiri” pada saat melakukan kegiatan pribadi, misalnya, mandi mengizinkan “keluarga”. Hal ini mengungkapkan makna praktis modal sosial yang terjadi di wilayah urban Yogyakarta bahwa nilai-nilai sosial masyarakat masih dijunjung tinggi, ditunjukkan melalui nilai individual tidak tampak menonjol, sementara “teman” dalam situasi lingkungan hunian dianggap hubungan yang tidak memiliki jarak sosial yang nyata.
Cite
CITATION STYLE
Anggraini, L. D. (2019). HUBUNGAN INTERPERSONAL DALAM KONTEKS SOSIAL MASYARAKAT URBAN YOGYAKARTA: KAJIAN PRIVASI AKUSTIK, VISUAL DAN FISIK. Aksen : Journal of Design and Creative Industry, 3(2), 38–56. https://doi.org/10.37715/aksen.v3i2.804
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.