PROSES PINTAS PENGOLAHAN KAKAO SKALA UKM STUDI KASUS DI LUWU SUL-SEL

  • Manalu L
  • Djafar M
  • Wibawa T
  • et al.
N/ACitations
Citations of this article
76Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

UKM pengolahan kakao yang ada di Indonesia umumnya mempunyaipermasalahan yang sama antara lain peralatan yang kapasitasnya rendah,permodalan, bahan baku (biji kakao) yang sedikit serta akses informasi daninovasi. Kapasitas peralatan pengolahan produk antara kakao yang menghasilkanlemak dan bubuk kakao sangat kecil sehingga tidak efisien dan sulit untukmendapatkan keuntungan. Oleh karena itu kajian ini dilakukan untuk mempelajarikinerja peralatan pengolahan kakao agar proses pengolahan dapat dioptimalkandan lebih efisien. Kajian ini dilakukan di sebuah UKM di Kabupaten Luwu SulawesiSelatan dengan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan sentra kakao danperalatan pengolahan yang digunakan sama atau sejenis dengan lokasi lain diIndonesia. Hasil studi ini menyimpulkan antara lain bahwa dengan kapasitas pengolahan saat ini produk maksimal yang dapat dicapai adalah sekitar 5 kg bubuk dan 3 kg lemak kakao per hari atau sekitar 100 kg bubuk dan 60 kg lemak dalam satu bulan, dimana 95% dari tenaga yang dibutuhkan dihabiskan untuk alatkoncing atau proses pembubukan. Untuk mengoptimalkan kapasitas produksi dan meminimalkan penggunaan energi maka disarankan bahwa pengolahan kakao dibatasi hanya sampai pada produk pasta dimana dapat dihasilkan 200 kg pasta per hari atau 4 ton per bulan.

Cite

CITATION STYLE

APA

Manalu, L. P., Djafar, M. Y., Wibawa, T. Y., & Adinegoro, H. (2023). PROSES PINTAS PENGOLAHAN KAKAO SKALA UKM STUDI KASUS DI LUWU SUL-SEL. Majalah Ilmiah Pengkajian Industri, 11(1), 51–60. https://doi.org/10.29122/mipi.v11i1.2093

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free