Syukur dalam Perspektif Al-Qur’an

  • Komaru Zaman
  • Lilis Amaliya Bahari
N/ACitations
Citations of this article
584Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan deskriptif analisis. Adapun hasil dari penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa Syukur dalam Al-Qur’an tafsir Ibnu Katsir dan Al-Ibriz ialah berterima kasih, mengakui nikmat dan memperlihatkannya dengan cara memuji. Atau lebih lengkapnya syukur ialah terlihatnya pengaruh nikmat Allah Ta’ala pada lisan hamba-Nya dalam bentuk pujian, pada hati dalam bentuk pengakuan, dan pada anggota badan dalam dimensi ketaatan atau kepatuhan. Maksudnya ialah membalas nikmat Allah Ta’ala dengan cara ucapan, perbuatan, dan disertai dengan niat untuk selalu mengingat-Nya. Perbandingan dua tafsir dalam memaknai kata syukur yaitu Pertama menurut Tafsir Ibnu Katsir Syukur ialah mengakui nikmat yang Allah berikan dengan cara menyebut-nyebutnya dengan lisannya. Dan mempergunakan kenikmatan tersebut untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala agar Allah menambah kenikmatan tersebut dan menjauhi kekufuran agar terhindar dari azab-Nya. Kedua menurut Tafsir Al-Ibriz Syukur ialah mengakui nikmat yang Allah berikan dengan cara menyebut-nyebutnya dengan lisannya. ketaqwaan seorang hamba kepada Allah Ta’ala tidak akan menambah kerajaan/kekuasaanya sebagai pencipta, namun syukur dan ketaqwaan seorang hamba justru akan menambah nikmat hamba itu sendiri.

Cite

CITATION STYLE

APA

Komaru Zaman, & Lilis Amaliya Bahari. (2023). Syukur dalam Perspektif Al-Qur’an. Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir Dan Pemikiran Islam, 4(2), 293–308. https://doi.org/10.58401/takwiluna.v4i2.1090

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free