Abstract
Mohammad Hatta (1902–1980), Wakil Presiden pertama dan proklamator kemerdekaan Indonesia, juga dikenal sebagai negarawan intelektual, ekonom, pendidik, dan penulis produktif. Tulisan ini mengkaji pandangan Hatta tentang upaya membangun jiwa bangsa—meliputi pembangunan mental-spiritual, karakter bangsa, dan moralitas publik—melalui karya dan pidatonya tentang agama, dasar negara, pendidikan, budaya, dan karakter bangsa dari 1930-an hingga 1970-an. Pandangan keagamaannya bersifat substantif dan inklusif, menekankan nilai-nilai universal lintas iman. Hal ini memungkinkan pemahaman proporsional terhadap peran agama dalam ranah publik, melampaui dikotomi ‘integrasi’ dan ‘pemisahan’, serta mengantisipasi konsep ‘diferensiasi’ dari José Casanova dan Alfred Stepan. Hatta menekankan pentingnya pendidikan karakter dan kapasitas manusia sebagai dasar Indonesia merdeka, adil, dan sejahtera berlandaskan Pancasila. Gagasannya tentang kemajuan—yang menekankan mutu hidup dan kapabilitas manusia melalui pendidikan dan kesehatan—mendahului kerangka pembangunan manusia seperti yang dikembangkan oleh Amartya Sen. Ia menekankan perpaduan antara keunggulan intelektual dan integritas moral demi membangun bangsa yang bermartabat dan berkarakter.
Author supplied keywords
Cite
CITATION STYLE
Latif, Y. (2025). Building the Soul of the Indonesian Nation: Mohammad Hatta on Religion, the State Foundation, and Character Building. Studia Islamika, 32(2), 241–278. https://doi.org/10.36712/sdi.v32i2.45220
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.