Abstract
Konversi abu layang menjadi geopolimer merupakan salah satu satu cara yang tepat untuk mengurangi permasalahan limbah abu batubara yang merupakan limbah B3 dan setiap tahunnya terus menerus meningkat produksinya. Pada penelitian ini digunakan abu layang dari PLTU Pacitan, Semen Gresik, Petrokimia Gresik, dan Australia sebagai bahan dasar pembuatan geopolimer. Metode pembuatan geopolimer ini megacu pada penelitian sebelumnya. Kuat tekan geopolimer yang diukur pada usia 7 hari setelah curing secara berurutan adalah sebesar 46,71; 42,6; 42,6; 9,55 MPa. Hasil analisis terhadap sifat fisika kimia yang meliputi komposisi fasa dan kristalinitas, morfologi dan ukuran partikel serta komposisi unsur penyusun abu layang menunjukkan bahwa faktor yang memiliki pengaruh paling kuat pada penelitian ini adalah ukuran partikel abu layang. Abu layang dengan ukuran partikel terbesar menghasilkan geopolimer dengan kuat tekan terendah. Kandungan kalsium yang tinggi menghasilkan setting time yang pendek dan semua geopolimer yang memiliki kuat tekan tinggi terbuat dari abu layang dengan kandungan Fe2O3 yang tinggi pula.
Cite
CITATION STYLE
Sari, D. K., Setyaningsih, E. P., Fansuri, H., & Susanto, T. E. (2018). Kajian Karakteristik Kimia dan Fisika Abu Layang yang Menjadi Penentu Kekuatan Mekanik Perekat Geopolimer Berbahan Dasar Abu Layang. Akta Kimia Indonesia, 3(2), 222. https://doi.org/10.12962/j25493736.v3i2.4563
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.