Abstract
Dalam dua dekade terakhir, hubungan antara pendidikan hak asasi manusia dan transformasi konflik semakin menarik perhatian. Hubungan ini dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti, dampak konflik atau krisis terhadap kerja-kerja pendidikan HAM, bagaimana pendidikan HAM berkontribusi dalam pembangunan perdamaian dan transformasi konflik, serta transformasi seperti apa yang diperlukan untuk mendukung upaya pendidikan HAM di tengah masyarakat yang mengalami konflik. Makalah ini ditulis berdasarkan tinjauan pustaka, wawancara dengan para pendidik dan praktisi HAM untuk merefleksikan praktik lapangan atau pengalaman mereka dalam situasi konflik atau pasca konflik dan hubungan antar aktor, dan menghindari pendekatan pemenuhan HAM yang terlalu legalistik. Penulis berpendapat bahwa Pendidikan HAM dan transformasi konflik harus dianggap saling melengkapi untuk mengisi 'kesenjangan' satu sama lain dan berkontribusi pada pemahaman yang lebih holistik tentang teori dan praktik di masing-masing bidang. Untuk transformasi konflik, perspektif HAM membantu untuk menangani konflik berbasis struktural, terutama dengan fokus pada peran negara, sistem pemerintahan dan hubungan kekuasaan yang dapat menghasilkan, mendorong, dan mengubah konflik kekerasan. Sementara mempertimbangkan transformasi konflik dalam penegakan dan pemajuan HAM akan membantu kita untuk melihat akar penyebab, siklus kekerasan, dinamika dan relasi antar aktor, dan menghindarkan analisis HAM yang bersifat legalistik saja.
Cite
CITATION STYLE
Nuraini, A. (2022). Mencari Titik Temu antara Pendidikan HAM dan Transformasi Konflik: Refleksi Pengalaman dari Lapangan. Jurnal Hak Asasi Manusia, 15(1), 20–43. https://doi.org/10.58823/jham.v15i1.115
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.