Abstract
Dalam era new media tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena hiperrealitas menjadi sangat marak terjadi pada masyarakat terlebih lagi pada kaum – kaum tertentu. Salah satunya adalah kaum homoseksual yang menggunakan salah satu platform media sosial Twitter sebagai media untuk mengekspresikan diri dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Hal ini dikarenakan mereka tidak dapat menunjukkan identitas asli dirinya sendiri dalam realitas sosial maupun dalam akun utama media sosialnya. Maka dari itu ini menjadi menarik bagaimana mereka diri mereka sendiri atau versi lain dari diri mereka yang tidak dapat mereka tunjukkan di tempat lain. Mungkin juga terdapat beberapa alasan yang memengaruhi bagaimana mereka memilih media sosial Twitter sebagai media mereka mengekspresikan diri dan juga bagaimana masyarakat memiliki pandangan terhadap kaum homoseksual sehingga mereka tidak merasa kehidupan aslinya sebagai tempat yang aman untuk berekspresi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi fenomenologis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah purposive sampling. Data didapat melalui observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Dalam hasil penelitian ditemukan hiperrealitas yang terjadi pada alter account adalah simulasi identitas pada Twitter dan tingkat self disclosure yang terjadi keterbukaan pengguna alter account dikarenakan rasa nyaman dan lega setelah melakukan pengungkapan diri.
Cite
CITATION STYLE
Siwi, D. R., & Febriana, P. (2022). Hyperreality dan Self Disclosure Kaum Homoseksual di Twitter. Jurnal Nomosleca, 8(1), 66–80. https://doi.org/10.26905/nomosleca.v8i1.7325
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.