Abstract
Fokus utama pembahasan yang hendak diteliti dalam artikel ini adalah bagaimana kadar kepatutan atau kewajaran yang sebaiknya dilakukan orang kristen, ketika mereka mengekspresikan diri dalam ber-Tik Tok. Topik ini perlu dibahas, mengingat aplikasi Tik Tok merupakan salah satu media sosial yang digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai golongan maupun agama. Di dalam mengerjakan tulisan ini, peneliti menggunakan pendekatan studi literatur dan fenomenologis untuk menjawab pertanyaan penelitian yang hendak dibahas. Adapun pertanyaan itu, apa kelebihan dan kekurangan media ini? Bagaimana bentukkonkret pengekspresian diri yang dilakukan pengguna dalam ber-Tik Tok? Serta bagaimana perspektif etika Kristiani dalam ber Tik Tok? Hasil yang didapat adalah bahwa media sosial Tik Tok memudahkan semua pelaku konten untuk viral baik yang positif maupun negatif, karena algoritma Tik Tok For You Page memberi kesempatan yang sama pada semua orang. Bentuk pengekspresian diri yang dominan dalam ber Tik Tok oleh usernya adalah berjoget, menari dan lip sync. Akibatnya, unsur erotisme, sensualitas dengan memperlihatkan lekukan tubuh dan mengejek sering dilakukan. Prinsip etika kristiani melarang keras orang kristen untuk menampilkan corak kehidupan yang buruk apalagi tidak sopan. Karena orang kristen dilabeli sebagai suratan Kristus untuk bisa menjadi teladan dalam perkataan maupun perbuatan sebagai terang dunia.
Cite
CITATION STYLE
Simon Simon, Panggarra, R., & Berhitu, R. (2022). Ber Tik-Tok: Sejauh Mana Bentuk Mengekspresikan Diri Dilakukan Dalam Perspektif Etika Kristiani. Vox Dei: Jurnal Teologi Dan Pastoral , 3(2), 171–186. https://doi.org/10.46408/vxd.v3i2.155
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.