Skrining Inhibitor Antihistamin Secara In Silico dari Senyawa Melati Belanda (Quisqualis indica L.)

  • Nashrul Wathan
  • Hadi S
  • Rizki Swastika Puri
N/ACitations
Citations of this article
38Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Gejala gatal-gatal, ruam kulit, hidung tersumbat, bersin-bersin, mata merah, dan anafilaksis merupakan tanda dari alergi. Penanganan penyakit alergi dilakukan dengan pemberian terapi glukokortikoid, antileukotrien dan antihistamin H1. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah skrening bahan alam dengan metode Insilico. Alur cara kerja dimulai dengan mencari senyawa dari melati belanda, kemudian dipreparasi di chem axon, tahap selanjutnya adalah docking PLANT dan yang terakhir Visualisasi dengan menggunakan Discovery studio. Hasil dari peneltian ini adalah skordocking dari masing masing ligand yaitu: asquisqualic acid (-67,0166); arachidonic acid (-114,165); linoleic acid(-109,504); rutin ( -29,15); Quisqualic acid (-69,3609); Trigonelline (-65,1792); quinoline-4-carbonitrile (-76,9548); gallic acid (-70,2333); ellagic acid (-67,0591); flavogallonic acid (-30,9294); brevifolin carboxylic acid (-74,2838); quercetin(-82.544); β-sitosterol (-67,9037); lupeol (-30,033); linalool (-75,1704). Kesimpulannya yang memiliki energi terendah yang berpotensi sebagai inhibitor antihistamin adalah asam arachidonat.

Cite

CITATION STYLE

APA

Nashrul Wathan, Hadi, S., & Rizki Swastika Puri. (2023). Skrining Inhibitor Antihistamin Secara In Silico dari Senyawa Melati Belanda (Quisqualis indica L.). JURNAL PENDIDIKAN MIPA, 13(3), 729–735. https://doi.org/10.37630/jpm.v13i3.1164

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free