Abstract
This current paper explores and analyzes the trend of Sufism discourses and practices among Indonesian Muslim modernist-reformer organizations with special reference to the Muhammadiyah movement. The public tends to categorize Muhammadiyah as an anti-Sufism movement. A close study, however, shows that the existence of Sufism discourse and practices is a clear religious phenomenon among its individual figures and members, although organizationally Muhammadiyah does not recognize the existence of Sufi orders (tarekat). Based on the data collected from subjective-ethnographic notes of the organization’s programs and activities as well as literature studies of the organization documents, this study implements Stephen Katz’s philosophical model. It shows that Muhammadiyah is searching for Islamic spirituality by promoting the authenticity of tasawuf aspects, namely tauhīd or monotheism and akhlāq al-karīmah or noble characters as reflected in the concept of ihsān. In this regard, Sufism is defined as a system of values and spirituality, not involved in a particular Sufi order. Muhammadiyah interprets Sufism as ethical values and ethos to do virtuous actions in society. Tulisan ini mengeksplorasi dan menganalisis tren wacana dan praktik tasawuf dalam organisasi Islam modern-pembaharu di Indonesia dengan referensi khusus pada gerakan Muhammadiyah. Masyarakat cenderung mengkategorikan Muhammadiyah secara umum sebagai gerakan anti tasawuf. Namun kajian mendalam menunjukkan bahwa praktik dan wacana tasawuf merupakan fenomena keagamaan yang nyata di kalangan individu tokoh dan anggotanya, meskipun secara organisasi Muhammadiyah tidak mengakui keberadaan tarekat. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari catatan etnografi subjektif dari program dan kegiatan organisasi serta studi literatur dokumen organisasi, penelitian ini menerapkan model filosofis Stephen Katz sebagai pisau analisi. Hasil kajian menunjukkan bahwa spiritualitas Islam di mata Muhammadiyah dikonstruksi dengan mengedepankan autentisitas tasawuf itu sendiri, yaitu ihsān dan akhlāq al-karīmah. Tasawuf diartikan sebagai suatu sistem nilai dan spiritualitas, bukan keterlibatan dalam tarekat tertentu. Muhammadiyah memaknai tasawuf sebagai nilai etis dan etos untuk melakukan tindakan kebajikan dalam masyarakat.
Author supplied keywords
Cite
CITATION STYLE
Muttaqin, A., Hamsah, U., & Abror, R. H. (2023). Muhammadiyah, Sufism, and the quest for ‘authentic’ Islamic spirituality. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, 13(1), 199–226. https://doi.org/10.18326/ijims.v13i1.199-226
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.