Abstract
Angka kejadian DA di Indonesia meningkat setiap tahunnya dan menempati peringkat pertama dari 10 besar penyakit kulit anak pada tahun 2010. Prevalensi DA di Lampung sendiri menempati urutan kesepuluh dalam daftar sepuluh besar penyakit provinsi Lampung pada tahun 2016 dengan jumlah 44.034 kasus. Pada lebih dari 90% kulit penderita dermatitis atopik didapatkan kolonisasi Staphylococcus aureus sebagai akibat dari gangguan sawar kulit dan imunitas alamiah. Sejak kemunculan galur S. aureus yang resisten terhadap antibiotik metisilin tahun 1961, MRSA mulai ditemukan pada lesi pasien dermatitis atopik. MRSA telah menjadi masalah kesehatan global yang sangat berhubungan dengan infeksi yang susah disembuhkan dan morbiditas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya MRSA pada lesi pasien dermatitis atopik yang berobat ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan potong lintang. Pengumpulan sampel diperoleh berupa swab dari lesi pasien pada periode Maret hingga Mei 2019, kemudian dilakukan identifikasi bakteri MRSA di laoratorium dengan dilakukan kultur pada media agar. 57,7% penderita DA memiliki kolonisasi Staphylococcus aureus dan 20% di antaranya adalah MRSA.
Cite
CITATION STYLE
Enjelina, E., Warganegara, E., & Mutiara, U. G. (2022). Identifikasi ¬Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada Pasien Dermatitis Atopik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Medical Profession Journal of Lampung, 12(1), 95–99. https://doi.org/10.53089/medula.v12i1.416
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.