Pemikiran Jacques Rancière untuk Seni Emansipatif Indonesia

  • Wiyanto H
N/ACitations
Citations of this article
23Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Menurut Ranciere, estetika terkait dengan rezim-rezim pemikiran. Karya seni tidak bisa dilepaskan dari ranah pemikiran. Estetika yang meniscayakan relasi antara estetika dan politik disebutnya sebagai estetika primer. Dalam rezim estetik yang berlangsung selama dua abad belakangan ini, seni telah mengalami perkembangan luar biasa dalam hal wacana, praktik maupun pemahaman perihal seni itu sendiri. Bagi Renciere, bukan otonomi seni yang membebaskannya dari norma dan hierarkhi, melainkan kondisi kesetaraan yang memungkinkan seni menjadi otonom, dan karena itu seni menjadi politis. Otonomi estetik pada seni bukan berarti tanpa makna politis. Sebaliknya otonomi memperoleh maknanya melalui relasinya dengan heteronomi yang membayangkan harapan akan perubahan kehidupan. Estetika kesetaraan memungkinkan kita melihat adanya relasi setara antara seni dan kehidupan. Paper ini memberikan ilustrasi karya-karya yang memiliki otonomi sekaligus menunjukkan gejala heteronomi, seperti pada karya-karya Kazimir Malevich, Tisna Sanjaya, Djokopekik, dan FX Harsono.

Cite

CITATION STYLE

APA

Wiyanto, H. (2023). Pemikiran Jacques Rancière untuk Seni Emansipatif Indonesia. Dekonstruksi, 9(04), 97–110. https://doi.org/10.54154/dekonstruksi.v9i04.196

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free