Abstract
Seorang konselor akan dikatakan profesional apabila mampu menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah siswa, menguasai kerangka teoritik dan praksis Bimbingan dan Konseling (BK), merancang program BK, mengimplementasikan program BK yang komprehensif, menilai proses dan hasil kegiatan BK, memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional serta menguasai konsep dan praksis penelitian dalam BK. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Tahap analisis kebutuhan dilakukan dengan metode survey. Pada kenyataannya masih banyak ditemukan konselor yang belum menguasai keseluruhan kompetensi diatas. Hal ini juga disebabkan karena banyaknya tugas dan tanggung jawab konselor sekolah dalam menangani permasalahan siswa dibandingkan jumlah konselor di sekolah. Secara ideal satu konselor memegang 150 siswa di Sekolah (Permendiknas No 27 tahun 2008). Pada kenyataannya di lapangan berdasarkan hasil observasi pada beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Malang, konselor memegang lebih dari 150 siswa bahkan ada yang memegang sampai lebih dari 500 siswa. Dari uraian data sebagai dipaparkan, dapatlah disimpulkan sebagai berikut. (1) Banyak konselor mengeluh terhadap suasana sekolah yang kurang memungkinkan konselor melaksanakan konseling dengan baik, (2) Konselor membutuhkan strategi alternatif layanan individual karena mereka kesulitan menerapkan pendekatan konseling dalam semua situasi, (3) Konselor harus kreatif dalam menerapkan layanan dan strategi konseling untuk memberi layanan kepada siswa dengan
Cite
CITATION STYLE
Hambali, I. (2016). MODEL DIALOG “4D” UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MULTI KULTURAL SISWA SMA DI KOTA MALANG. Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling, 1(3), 95–103. https://doi.org/10.17977/um001v1i32016p095
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.