Masuknya Inggris ke Australia dan Dampaknya Bagi Suku Aborigin

  • Putri Z
  • Pahlevi M
N/ACitations
Citations of this article
71Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Artikel ini memakai metode penelitian kepustakaan. Studi kepustakaan ialah metode pengumpulan data dengan metode mereview buku, dokumen, catatan, serta berbagai macam laporan yang berhubungan dengan permasalahan yang hendak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peristiwa masuknya Inggris ke Australia, serta dampak bagi kelangsungan hidup suku Aborigin. Bangsa Eropa yang pertama kali membuka rute pelayaran ke benua Australia adalah Potugis, yang melakukan pelayaran samudera pada tahun 1511. Pada tahun 1606, Spanyol juga menjadi salah satu bangsa Eropa yang membuka rute pelayaran untuk menemukan benua Australia. Setelah rute pelayaran tersebut terbuka bangsa Eropa lainnya juga mulai melakukan pelayaran untuk menemukan benua Australia. Salah satu bangsa Eropa yang melakukan pelayaran untuk menemukan benua Australia adalah Belanda. Para pendatang tidak mengakui adannya suku-suku pribumi di Australia dan hanya memandang Australia sebagai daerah yang tidak berpenghuni (terra nullius). Sedangkan, bagi suku-suku pribumi terutama bagi suku Aborigin, para pendatang tersebut dianggap sebagai penajah, sebagai ancaman yang mengambil wilayah tersebut. Bagi suku Aborigin wilayah Australia adalah milik mereka, karena mereka telah menempati wilayah tersebut selama ribuan tahun.

Cite

CITATION STYLE

APA

Putri, Z., & Pahlevi, M. R. (2023). Masuknya Inggris ke Australia dan Dampaknya Bagi Suku Aborigin. Danadyaksa Historica, 2(2), 97. https://doi.org/10.32502/jdh.v2i2.5664

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free