Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran mural di Tugu Tunas sebagai media komunikasi visual dalam ruang publik yang memiliki keunikan karena diterapkan pada permukaan monumen, berbeda dari mural pada umumnya yang berada di dinding bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi visual dan relevansinya terhadap pendidikan seni dalam mural di Tugu Tunas, Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan berbagai informan serta divalidasi melalui tiga tahap validasi fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mural di Tugu Tunas bertujuan menampilkan budaya lokal Semarang secara visual. Melalui kajian semiotika, pesan dalam mural ini sesuai dengan konsep yang diterjemahkan dari gagasan pemerintah dan seniman. Para seniman mampu menerjemahkan simbol budaya dengan akurat sehingga maknanya dapat dipahami masyarakat. Namun, terdapat gangguan komunikasi, seperti keterbatasan bidang visual monumen dan kurangnya pemahaman publik terhadap simbol yang digunakan. Dengan demikian, mural di Tugu Tunas tidak hanya memiliki nilai estetika tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi yang memberikan wawasan artistik dan pengalaman estetika bagi masyarakat.This research is motivated by the role of murals at Tugu Tunas as a visual communication medium in public spaces, which is unique because it is applied to the surface of a monument, differing from most murals that are usually found on building walls. This study aims to analyze visual communication and its relevance to art education in the murals at Tugu Tunas, Semarang City. The method used is qualitative with a phenomenological approach. Data was collected through field observations and interviews with various informants and validated through three stages of phenomenological validation.The results show that the mural at Tugu Tunas aims to visually represent Semarang's local culture. Through a semiotic study, the message conveyed in this mural aligns with the concept translated from government and artist ideas. The artists successfully translated cultural symbols accurately, allowing the public to understand their meaning. However, communication disturbances were found, such as the limited visual field of the monument and the public's lack of understanding of the symbols used. Thus, the mural at Tugu Tunas not only holds aesthetic value but also functions as an educational medium that provides artistic insights and aesthetic experiences to the community.
Cite
CITATION STYLE
Lembayung, A. S. (2025). INTERAKSI SENI DAN RUANG PUBLIK: RELEVANSI MURAL TUGU TUNAS DALAM PENDIDIKAN SENI. Qualia: Jurnal Ilmiah Edukasi Seni Rupa Dan Budaya Visual, 5(1), 23–32. https://doi.org/10.21009/qualia.51.03
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.