Abstract
Seni sejatinya memiliki peluang untuk mengurangi kadar otokratisme segala bentuk fundamentatisme dengan menciptakan ruang-ruang pertemuan dari berbagai entitas yang telah mengalami eksklusi dan konfrontasi tanpa akhir. Ia dapat menciptakan ruang-ruang pertemuan baru untuk memicu permainan bentuk sebagai pengalaman bersama yang tak terduga. Pada derajat tertentu seni modern telah mengganti seni religius tradisional dengan spiritualitas individual yang sekuler. Seni modern juga memiliki tendensi kritikal terhadap bentuk-bentuk dehumanisasi kultur kapitalisme-industrial maupun totalisme politik. Tapi, setelah artikulasi kritikal itu mulai tumpul, seni modern kemudian mengalihkan sasaran “agresi” kepada dirinya sendiri sebagai kritik lanjutan terhadap “modernitas” itu sendiri.
Cite
CITATION STYLE
Adi, W. (2022). Seni Rupa dan “Fundamentalisme” Agama. Dekonstruksi, 6(01), 21–64. https://doi.org/10.54154/dekonstruksi.v6i01.89
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.