Abstract
Kelayakan usaha kambing kacang yang didasarkan pada skala pemeliharaan penting dilakukan. Ini dikarenakan ternak kambing memiliki pangsa pasar yang cukup luas, mulai dari kebutuhan konsumsi daging sampai kepada kebutuhan hewan aqiqah dan qurban. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi usaha ternak kambing kacang melalui indikator kelayakan Break Even Point (BEP), Net Present Value (NPV), dan Benefit Cost Ratio (B/C-rasio) yang didasarkan pada skala kepemilikan. Dilaksanakan di Sanrobone Takalar pada bulan April-Juli 2023. Menggunkan metode survei terhadap 60 rumahtangga peternak sebagai unit sampling, ang terdiri atas empat skala kepemilikan; masing-masing; 2-5 ekor; 6-9 ekor; 10-13 ekor; dan ≥14 ekor. Variabel yang diukur dan dianalisis meliputi; arus kas, BEP, NPV, dan B/C-ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala 6-9; 10-13; dan ≥14 ekor memiliki BEP>1 dan B/C-rasio>1. Sementara skala kecil 2-5; memperoleh nilai BEP<1 dan B/C-rasio<1. Dari segi indikator NPV diperoleh nilai >1 (positif) untuk semua skala, yang dapat diartikan bahwa usaha peternakan kambing kacang berpotensi menguntungkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa semua skala dianggap layak, namun berdasarkan indikator BEP dan B/C-rasio skala yang dianggap layak adalah 6-9; 10-13; dan ≥14.
Cite
CITATION STYLE
Paly, M. B. (2023). Kelayakan Finansial Usaha Kambing Kacang (Capra Aegagrus) Berdasarkan Skala Pemeliharaan di Kabupaten Takalar. Anoa: Journal of Animal Husbandry, 2(2), 95–103. https://doi.org/10.24252/anoa.v2i2.40423
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.