Stereotype Sekolah Inklusi dan Minimnya Guru Laki-Laki

  • Lestari D
  • Jono A
N/ACitations
Citations of this article
8Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Sekolah-sekolah berbasis inklusi di Kota Bengkulu kesulitan mencari guru laki-laki. Hal ini berkaitan dengan stretype masyarakat bahwa perempuan lebih sabar, lebih telaten dan lebih tepat dalam mengasuh dan merawat anak inklusi. Pandangan ini berdampak pada pihak sekolah kesulitan dalam menerapkan pembelajaran pendidikan seksual pada anak berkebutuhan khusus yang beranjak remaja. Anak-anak ini secara kognitif terbatas, tetapi perkembangan seksual dan emosinya setara dengan anak reguler. Metodologi penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan menggunakan 3 tahap koding yaitu open koding, axial koding dan selektif koding. Hasil penelitain menunjukkan adanya sterotupe negatif dari masyarakat dan orangtua calns siwa mengenai sekolah inklusi serta tidak adanya guru pendamping berjenis kelamin laki-laki.

Cite

CITATION STYLE

APA

Lestari, D., & Jono, A. A. (2023). Stereotype Sekolah Inklusi dan Minimnya Guru Laki-Laki. Al Huwiyah: Journal of Woman and Children Studies, 3(2), 122. https://doi.org/10.24042/jwcs.v3i2.19280

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free