Abstract
Secara umum pengertian kekeringan adalah ketersediaan air yang kurang dari kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi, dan lingkungan. Terkait dengan produksi pangan maka kekeringan pertanian sangat berpengaruh terhadap kegiatan budi daya pangan di suatu wilayah. Ketersediaan air tanah sangat penting untuk menentukan tingkat rawan kekeringan lahan padi di Kabupaten Banyuwangi. Data yang digunakan adalah curah hujan bulanan periode 1981-2010 dari 32 pos hujan dan stasiun BKMG di Kabupaten Banyuwangi. Analisis tingkat kekeringan menggunakan pembobotan air tanah tersedia dan tipe iklim Oldeman pada setiap pos hujan. Kabupaten Banyuwangi berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman terbagi menjadi 9 tipe iklim mulai dari iklim yang basah (B1) hingga kering (D dan E). Pada Februari, Maret, dan April ketersediaan air tanah lebih banyak dibandingkan bulan lainnya, sedangkan Agustus, September dan Oktober memiliki ketersediaan air tanah terendah. Wilayah bagian barat Banyuwangi memiliki air tersedia yang lebih besar dibandingkan bagian timur. Tingkat kekeringan lahan padi bervariasi secara temporal dan spasial mulai dari sangat rawan hingga aman. Tingkat kering dan rawan kekeringan padi puncaknya terjadi pada September dan Oktober dengan cakupan wilayah yang paling luas. Sebagian besar wilayah mengalami tingkat yang aman untuk lahan padi adalah pada Januari, Febuari, Maret dan April.
Cite
CITATION STYLE
Nuryadi, N., & Agustiarini, S. (2019). ANALISIS RAWAN KEKERINGAN LAHAN PADI KABUPATEN BANYUWANGI JAWA TIMUR. Jurnal Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika, 5(2), 29–36. https://doi.org/10.36754/jmkg.v5i2.56
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.