Analisa Manajemen Risiko proyek di daerah 3T (Terluar–Terdepan–Tertinggal). Studi Kasus Pembangunan Jalan di Pulau Siberut, Kep. Mentawai, Sumatera Barat

  • Iman M
  • Ferry Rusgiyarto
N/ACitations
Citations of this article
8Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Pelaksanaan proyek di daerah 3T memiliki karakteristik tersendiri disebabkan kondisi geografis proyek yang menyebabkan sulitnya mobilisasi alat, material, dan tenaga. Penelitian ini bertujuan mencari risiko dominan pada pelaksanaan proyek di daerah 3T. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan kuesioner kepada 56 responden, dengan responden dibagi berdasarkan pernah atau tidaknya mereka melaksanakan proyek di daerah 3T, instansi asal responden (dinas bina marga, kontraktor, konsultan), pendidikan responden, dan lokasi pekerjaan dominan responden (Jawa, luar Jawa). Langkah pertama dari penelitian  adalah melakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner, dilanjutkan dengan skoring probabilitas, dampak dan tingkat risiko yang didapat dari hasil kuesioner dengan perhitungan Severity Index, selain itu juga dilihat kecenderungan jawaban responden berdasarkan klasifikasi responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang pernah melaksanakan proyek di daerah 3T,  responden yang berasal dari kontraktor, berpendidikan S1,  dan lokasi pekerjaan dominan di luar Jawa, cenderung menilai bahwa risiko melaksanakan pekerjaan di daerah 3T cukup tinggi dibanding responden lain. Penelitian juga menunjukkan bahwa pekerjaan di daerah 3T memiliki tingkat risiko dari sedang sampai sangat tinggi.Project implementation in 3T (frontier, outermost, and disadvantaged) areas presents unique challenges due to difficult geographic conditions, which hinder the mobilization of equipment, materials, and labor. This research aims to identify the most dominant risks encountered during project execution in these regions. The study involved distributing questionnaires to 56 respondents, categorized by experience with 3T projects, agency affiliation (road construction and maintenance, contractor, consultant), educational background, and primary work location (Java or outside Java). The research began with validity and reliability testing of the questionnaire. It then proceeded to assess the probability, impact, and overall risk level using the Severity Index method. In addition, the analysis explored trends in responses based on the respondent classifications. The findings indicated that participants with experience in 3T projects, those working in contractor agencies, holding a bachelor's degree, and primarily working outside Java, generally perceived higher risks in 3T project implementation compared to other groups. The study concluded that project work in 3T regions is associated with risk levels ranging from moderate to very high, highlighting the importance of careful planning and risk management when operating in these challenging environments.

Cite

CITATION STYLE

APA

Iman, M., & Ferry Rusgiyarto. (2025). Analisa Manajemen Risiko proyek di daerah 3T (Terluar–Terdepan–Tertinggal). Studi Kasus Pembangunan Jalan di Pulau Siberut, Kep. Mentawai, Sumatera Barat. Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu Dan Aplikasi Teknik, 24(1), 24–33. https://doi.org/10.55893/jt.vol24no1.722

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free