Abstract
Anak tunarungu adalah anak yang kehilangan kemampuan dalam pendengaran. Kehilangan kemampuan ini apabila terjadi sejak dini akan secara tidak langsung juga mempengaruhi kemampuan berbicaranya. Sedangkan interaksi sosial sangatlah memerlukan komunikasi di dalamnya. Apabila anak tunarungu kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi pasti akan kehilangan juga kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Salah satu sekolah umum di daerah penulis yaitu, TK Syafina menerima anak berkebutuhan khusus, yaitu anak tunarungu. Tidak adanya guru pebimbing khusus yang disediakan oleh sekolah sangat menghambat anak tunarungu dalam kegiatan belajar. Dalam penelitian ini menggunakan fenomenologi hermeneutik. Fokus penulis yaitu, perilaku anak tunarungu di kelas, interaksi sosial anak tunarungu dengan teman sebayanya, guru kelas, dan guru pendamping kelas. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat ditarik kesimpulan bentuk perilaku anak tunarungu di kelas menyendiri, pendiam, mudah marah, dan mandiri. Interaksi sosial dengan guru kelas dan guru pendamping kelas terjadi interaksi yang cukup baik, namun terkadang guru kelas dan guru pendamping kelas kurang memahami maksud perkataan anak. Interaksi sosial anak tunarungu dengan anak normal lainnya terjadi cukup baik dengan ditunjukkan mereka saling berbagi, namun terkadang anak tunarungu lebih memilih menyendiri daripada bermain bersama dengan anak normal.
Cite
CITATION STYLE
Solicha, I. (2019). Interaksi Sosial Anak Tunarungu dalam Sekolah Umum di TK Syafina Sidotopo Wetan Surabaya. Child Education Journal, 1(2), 78–87. https://doi.org/10.33086/cej.v1i2.1340
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.