Risk Detection of Cash Waqf Utilisation based on Halal Religious Tourism Perspective of SDGs in Madura

  • Dikuraisyin B
  • Najah A
N/ACitations
Citations of this article
10Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

This research identifies, maps and mitigates risks in the utilisation of cash waqf for the development of halal religious tourism in Sumenep, Madura. The main problem of cash waqf management lies in the principle of waqf whose value should not decrease, but the benefits must be distributed. It is this principle that makes cash waqf managers (nadzir) must be careful in managing waqf funds with a scheme: minimising risk to the smallest point. This is where the significance of this research lies, waqf managers must be able to manage without reducing the value of waqf assets through risk detection. Risk detection is measured using the concept of maslahah which is tested through COSO Modification risk detection as a scientific measurement tool. The integration between these two instruments results in beneficial waqf management. This type of research is descriptive analytical with a phenomenological approach, looking at waqf instruments through the perspective of society. The data is taken from interviews with the waqf nadzir and some secondary data is taken from data on the website. The findings of this research show that risk detection of halal religious tourism cash waqf distribution, namely the entrepreneurial skills of nadzir and work partners with a score of 4.2. BMT Sumenep mitigates risks by forming a community that is symbiotic and expanding partners as guarantors of cash waqf assets. The implementation of cash waqf distribution is in accordance with the context of SDGs-1 and 8, reducing poverty and shaping human quality to ensure a decent life. Promoting the benefit of dururi to protect the family and social (hifd al-maal wa an-nasl).Penelitian ini mengidentifikasi, memetakan, dan memitigasi risiko dalam pemanfaatan wakaf uang untuk pengembangan wisata religi halal di Sumenep, Madura. Permasalahan utama pengelolaan wakaf tunai terletak pada prinsip wakaf yang nilainya tidak boleh berkurang, tetapi manfaatnya harus didistribusikan. Prinsip inilah yang membuat pengelola wakaf uang (nadzir) harus berhati-hati dalam mengelola dana wakaf dengan skema: meminimalisir risiko sekecil mungkin. Di sinilah letak pentingnya penelitian ini, pengelola wakaf harus mampu mengelola tanpa mengurangi nilai aset wakaf melalui deteksi risiko. Deteksi risiko diukur dengan menggunakan konsep maslahah yang diuji melalui deteksi risiko COSO Modifikasi sebagai alat ukur ilmiah. Integrasi antara kedua instrumen ini menghasilkan pengelolaan wakaf yang bermanfaat. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitis dengan pendekatan fenomenologi, melihat instrumen wakaf dari sudut pandang masyarakat. Data diambil dari wawancara dengan nadzir wakaf dan beberapa data sekunder diambil dari data di website. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa deteksi risiko penyaluran wakaf uang wisata religi halal, yaitu kemampuan wirausaha nadzir dan mitra kerja dengan skor 4,2. BMT Sumenep melakukan mitigasi risiko dengan membentuk komunitas yang bersifat simbiosis mutualisme dan memperluas mitra kerja sebagai penjamin aset wakaf tunai. Pelaksanaan penyaluran wakaf tunai sesuai dengan konteks SDGs-1 dan 8, mengurangi kemiskinan dan membentuk kualitas manusia untuk menjamin kehidupan yang layak. Mengedepankan kemaslahatan dururi untuk melindungi keluarga dan sosial (hifd al-maal wa an-nasl).

Cite

CITATION STYLE

APA

Dikuraisyin, B., & Najah, A. (2025). Risk Detection of Cash Waqf Utilisation based on Halal Religious Tourism Perspective of SDGs in Madura. ILTIZAM Journal of Shariah Economics Research, 9(1), 16–30. https://doi.org/10.30631/31yqrk93

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free